Menuju Masyarakat Belajar – Menggagas Paradigma Baru Pendidikan

Disadari atau tidak mayarakat kita banyak yang kurang memahami perihal bagaimana mesti berperan dalam pendidikan bagi anak-anak mereka sehingga kelak menjadi generasi yang tangguh dan berbudi pekerti luhur seperti harapan kita semua. Orang tua sering hanya memasrahkan pendidikan anak-anaknya pada lembaga-lembaga pendidikan formal yang nota bene lembaga-lembaga pendidikan tersebut lebih berperan dalam pengajaran yang lebih menitikberatkan pada aspek kognitif karena memang ranah kognitif inilah yang tidak mungkin orang tua kelola sendiri. Memang dalam setiap pelaksanaan proses pembelajarannya, lembaga pendidikan telah menyisipkan aspek-aspek pembentukan karakter pada anak-anak didiknya. Namun tentu hal ini masih jauh dari dapat dikatakan cukup. Maka sesunguhnyalah orang tua dalam hal ini harus proaktif berkenaan dengan aspek afektif bagi pendidikan anak-anaknya. Setidaknya demikianlah sebagian intisari dari apa yang ditulis oleh Prof. Nurcholish Madjid sebagai pengantar Buku ‘Menuju Masyarakat Belajar – Menggagas Paradigma Baru Pendidikan’ yang dikarang oleh pakar pendidikan Indra Djati Sidi, Ph.D., 2002.

Buku yang diterbitkan atas kerjasama PARAMADINA dengan LOGOS WACANA ILMU ini telah dibeli dan didistribusaikan oleh Bagian Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan – Dirjen Dikdasmen – Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2002 dan telah ada di perpustakaan-perpustakaan sekolah. Sayang jika buku bagus ini hanya menjadi pajangan atau bahkan telah lenyap dimakan rayap.

Buku tersebut diantaranya mengulas tentang mengubah paradigma pendidikan dari Teaching (mengajar) ke Learning (belajar). Dengan perubahan ini proses pendidikan menjadi ‘proses bagaimana belajar bersama antara guru dan siswa’. Guru dalam konteks ini juga termasuk dalam proses belajar. Sehingga lingkungan sekolah menjadi masyarakat belajar (learning society).

Terlalu panjang jika harus mengulas keseluruhan konten buku tersebut di sini. Silahkan cari di perpustakaan lalu baca untuk kemudian direnungkan, diimplementasikan, dan kita jadikan sebagai salah satu rujukan ketika berdiskusi lebih lanjut dalam kerangka perbaikan pendidkan di Indonesia tercinta ke depan.

72 Tanggapan

  1. Pendidikan bukan hanya miliki sekolah, tetapi juga milik orang tua dan masyarakat. Pak SBY sangat prihatin dengan moral anak bangsa ini, maka beliau mengajak dan mencanangkan pendidikan berkarakter. Pendidikan berkarakter akan tercapai kalau tiga untuk pendidik anak bangsa ikut terlibat.

  2. “Learning society” sangat diharapkan dan perlu dukungan sistem dalam mewujudkannya.

    • Wah dapet kunjungan dari tamu agung ni!
      Bener banget, bu Lis. Bahkan bukan hanya sistem, tetapi juga kemauan kita sebagai warga sekolah untuk mengubah kultur yang telah sedemikian mengakar.

  3. wah om mursyid blognya tambah rame

  4. gondrong jepara om… guru juga yang mampir lihat lihat dan baca baca

  5. Sepertinya tidak diedarkan untuk umum ya Mas?

  6. Pembentukan masyarakat belajar [learning society] diawali oleh pembentukan individu-individu. Pengubahan individu yang santai menjadi individu gesit dan suka bekerja keras, individu konsumtif menjadi produktif, individu penerima menjadi individu pemberi, individu yang mudah menyerah pada keadaan menjadi individu yang gigih mengubah keadaan, menuntut perubahan mendasar pada pribadi individu-individu tersebut (Nana Syaodih, 2005).

    Terima kasih atas infonya, tampaknya menarik untuk dibaca. Insya Allah saya mencoba mencarii buku itu.

  7. Sudah waktunya kita meninjau ulang sistem pendidikan di Indonesia..Semoga buku ini benar2 bisa mencerahkan…

    • Sistem pendidikan memang harus senantiasa mengikuti perkembangan zaman, maka harus terus-menerus dikaji ulang seiring dengan perjalanan waktu.

  8. p cabar kang mas
    salam hangat dari blue

  9. Saya hanya penasaran bagaimana caranya meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda.

    • Bangsa yg maju bangsa yang gemar membaca. Menurut saya salah satu upaya utk meningkatkan minat baca generasi muda, pemerintah mesti dapat menyediakan buku murah tapi tetap berkualitas. Namun nampaknya utk saat ini baru dapat direalisasikan utk beberapa buku paket di sekolah yang berlabel BSE. Buku2 pengetahuan umum harganya masih mencekik leher, sementara sebagian masyarakat kita utk memberi uang transport bagi anak2-nya susah.

  10. Perpusatakaan kota ada nggak ya, Pak?
    Menarik di baca, apalagi saat bicara “learning society” kan guru selama ini tugasnya menyampaikan isi buku (daripengalaman sih Pak) yang bener-bener kita nikmati kegiatan belajar dan mengajar dari sekian guru hanya3 orang, ini saat di SMU lho….

    • Nah lha kok tidak disampaikan saja dulu saat masih sekolah keadaan itu. Takut disatroni guru saat itu, ya?
      Mungkin diperpustakaan2 kota ada, coba saja dicari.

  11. tertarik sama bukunya, nyarinya kemana ya Pak?

  12. ayo majukan pendidikan Indonesia!🙂

  13. Buku keren nih … semoga bisa menjadi bahan acuan dalam menciptakan masyarakat Indonesia yang makin gemar belajar …

    Semoga persahabatan kita tiada lekang oleh waktu dan tiada terbatas oleh ruang

  14. perkembangan pendidikan yg semakin bagus dg adanya buku ini…
    semoga akan semakin merubah dunia pendidikan kita

  15. Terima kasih Pak, saya belum baca buku ini, padahal terbitnya sudah lama. Insya Allah saya akan mencarinya di perpus sekolah.

    • Silahkan dicari, Pak. Sangat bermanfaat utk kita para pendidik sebagai bahan perenungan dan introspeksi diri utk menuju pendidikan yg lebih baik.

  16. wah bagus tuh buku klo bisa masuk ke perpustakaan perpustakaan di Sekolah sekolah maupun universitas atau perguruan tinggi..

  17. tulisan yang menarik
    dunia pendidikan terus berkembang
    paradigma baru terus mengalir
    memunculkan ide-ide segar untuk kebaikan
    mari kita majukan pendidikan indonesia
    salam sukses…

    sedj

  18. Memang terkadang benar adanya penerapan istilah “BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH” telah dijalankan di sekolah2 negeri ini.

    Artinya : Para pengajarnya masih belajar dalam kegiatan mengajarnya, yang seharusnya bertugas mengajar belajar para siswanya. Ah, tentu tidak dengan P’Mursyid yang satu ini.

    Terima kasih ilmunya Pak Guru.

    • Mas Imam, dalam konteks ini guru sudah tdk tepat lagi kalau sekedar berperan sebagai pengajar (penyampai materi), guru kini lebih tepat menemani, memfasilitasi, dan mampu meciptakan suasana belajar kondusif dan kooperatif bagi siswanya.

  19. Semoga kita senantiasa bukan hanya mengedepankan pendidikan mengenai Iptek nya saja. namun imtaq nya juga.biar segalanya sejalan dan selaras….,

    • O ya tentu. Namun perlu digarisbawahi bahwa pendidikan dalam arti luas bukan melulu tanggung jawab lembaga pendidikan formal. Justru karena sebagian besar waktu siswa ada di rumah, maka orang tua tidak boleh lepas tangan melainkan harus lebih berperan dalam hal pendidikan imtaq ini.

  20. benar sekali Pak,, tanpa peran orang tua, pendidikan akan tiada artinya,, pendidikan terbaik tetap berawal dari rumah ya pak, guru hanya perpanjangan tangan..

  21. apa kabar pak guru??

  22. moral dan etika pendidikan generasi penerus bangsa menurut saya bermula dari pendidikan dan etika yang melandasi diri sendiri saat mempergunakan ilmu pengetahuan tersebut.

    salam sejahterah pak

  23. Saya juga waktu itu pernah baca dengan tema yang mirip dengan itu tetapi judulnya Quantun Teaching Learning

  24. Entah kenapa padahal semalam udah masuk sini, tapi diganggu chat,..komen putus, intinya saya sangat mendukung sekali, proses belajar yang terjadi bukan semata-mata peran Guru, namun Interaksi murid dengan gurunya sangat menunjang kesuksesan itu

  25. betul pak, kerjasama sekolah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menghasilkan pendidikan yang berhasil dan berkarakter

  26. Semua bermula dari Iqra’
    jadi belajar belajar dan belajar.
    entas kemiskinan mulai dari pendidikan ..
    sukses

  27. sudah saatnya pendidikan sekarang merubah paradigma mengajar yang 1 arah menjadi 2 arah, mengajar yang formalitas menjadi mengajar dengan hati..
    semoga mendatang pendidikan bisa melahirkan generasi emas yang terbaik bagi negeri ini.
    salam..

  28. paradigma dan maindset memang harus di rubah…

  29. Insya Allah bakalan bagus banget, Pak, kalau guru bisa mengajak murid untuk belajar bersama dan menggali suatu ilmu lebih dalam lagi🙂

  30. Jalan masih panjang untuk mencita-citakan masyarakat pembelajar, salah satunya bagaimana memotivasi semangat membaca di masyarakat. Walaupun di beberapa daerah kebiasaaan membaca sudah lumayan,namun secara umum kita masih kurang. Ini yang perlu kita bangkitkan bersama-sama.

  31. Salah satu pendorong kemajuan peradaban adalah terbangunya masyarakat pembelajar yang kemudian akan melahirkan inovasi baru, ide maupun gagasan cemerlang untuk membangun peradaban dan menggagas moderasi bangsa.

  32. benar sekali pak mursyid. Semoga kita bisa menjadi masyarakat pembelajar dimanapun kita berada. tidak hanya di bangku sekolah saja, dirumahpun harus.. makasih pencerahannya pak.. salam pendidikan..

  33. Pembelajaran yang paling utama itu dari rumah sendiri Pak.. Trims untuk pencaahannya..

  34. bukunya gratis pak? dunia pendidikan ini luas pak..saya mencoba memahami bukan sebagai seorang guru dalam sebuah institusi pendidikan ^^

  35. salam kenal pak..
    bpk sdh baca ya buku nya? gimana bagus nggak?

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: