Kontroversi Sumbangan Dana Orangtua Siswa untuk Pengembangan Sekolah

Slogan pendidikan gratis untuk sekolah di tingkat pendidikan dasar yang dikampanyekan pemerintah terbukti telah menciptakan dilema, karena ternyata dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang peruntukannya telah didikte sedemikian rupa serta dana lain yang dialokasikan pemerintah untuk sekolah ternyata hanya cukup untuk membiayai  operasional kegiatan sekolah pada strata standar yang sangat minimal. Di sisi lain, sebagian (mungkin besar) masyarakat yang telah dicekoki slogan pendidikan gratis terlanjur berpersepsi bahwa untuk menyekolahkan putra-putrinya di tingkat pendidikan dasar (SD/MI – SMP/MTs) mereka merasa tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali. Jika demikian, ini berarti bahwa sekolah hanya akan mampu melaksanakan kegiatan seadanya (asal jalan). Keadaaan financial sekolah lebih diperparah lagi dengan kenyataan bahwa sekolah tidak jarang harus terbebani oleh pengeluaran yang menurut regulasi tidak bisa dimasukkan dalam laporan pertanggungjawaban (SPJ), dengan kata lain sekolah harus membuat SPJ fiktif atas pengeluaran, yang sepengetahuan saya, nominalnya tidak bisa dibilang sedikit.

Menyikapi kondisi seperti di atas, sekali lagi menurut saya, salah satu alternative yang harus dilakukan adalah bahwa suka atau tidak sekolah harus menggali tambahan dana dari masyarakat (orangtua siswa). Tentunya hal ini harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab (terprogram dengan baik, dilkelola dengan kejujuran penuh, dan dilaporkan secara terbuka kepada semua pihak yang bersangkutan) dan yang tak kalah penting harus berkeadilan (yang miskin diberi keringanan, yang mampu menyumbang lebih besar) yang diputuskan melalui mekanisme musyawarah antara pihak sekolah dengan orang tua siswa dalam rapat pleno komite sekolah. Sekolah tidak sewajarnya secara sepihak membuat keputusan mengenai segala bentuk pungutan/sumbangan yang berpotensi menimbulkan protes dari pihak orang tua siswa. Untuk ini keharmonisan hubungan dan kekompakan seluruh unsur sekolah merupakan hal yang sangat krusial.

Bagaimanapun juga siswa sangat membutuhkan pelayanan pendidikan yang optimal (bukan minimal). Jika kebetulan anda orangtua/wali siswa yang kurang beruntung secara materi, silahkan anda secara jujur menyampaikan pada pihak sekolah untuk memperoleh keringanan, tetapi jika anda orangtua/wali siswa yang berlebih harta, semoga anda tergugah menjadi insan mulia dengan cara ikut berkontribusi lebih pada sekolah. Demikan juga, sebagai timbal balik, sekolah yang memungut sumbangan dana dari masyarakat berkewajiban memberikan pelayanan pendidikan yang tentunya harus bermutu dan jauh dari kesan berorientasi pada profit.

Semoga sedikit yang saya bahas ini menjadi bahan perenungan kita bersama.

Salam pendidikan!

59 Tanggapan

  1. masalah ini memang jadi dilema ya pak…

  2. Jika pemerintah belum dapat memenuhi kebutuhan biaya pendidikan sepenuhnya,saya pikir kampanye Pendidikan Gratis yang selama ini sering kita dengar tampaknya menjadi sesat dan menyesatkan,

    Saya setuju partisipasi masyarakat harus tetap dilibatkan dengan tanpa harus terjebak pada komersialisasi pendidikan

  3. Jargon atau kampanye gratis memang lebih kepada upaya politis yg dilkukan pd pemilu agar terpilih, pdhal itu berimbs pd kebijakan penganggaran APBN/APBD yg sangat sulit dilakukan untuk negara yg mh nanggung banyak utang bg Kab/kota yg gak punya banyak PAd dan msh sangat bergantung pd DAU yg terbatas itu hal yg mustahil. krn gratis berarti mau menanggung sgl kebutuhan sat pend. dan jg berarti menutup partisipasi masy yg berkemampuan. yang seharusnya memberi kebebasan drsgl pungutan bg keluarga miskin, tp tetap membuka partisipasi pd masy yg mampu. dan naampaknya masy yg berkecukupan dg penuh kesadaran asal pelayanan penddkn yg dibrikan benar2 bermutu dan pengelolaan dana penddkn dilakukan dg benar akan mudh mendapatkan kepercayaan masyarakat

    • Benar juga! Percuma saja jika sekolah yang meminta sumbangan dari masyarakat cukup besar ternyata tidak menghasilkan perbedaan posiif yang cukup berarti. Namun perlu dicatat bahwa sumbangan dari masyarakat pada sekolah sejauh ini lebih sering untuk keperluan fisik sekolah dan jarang secara langsung bersentuhan dengan manajemen pembelajaran.

  4. perlu dukungan dan kesadaran dari semua pihak..😀

  5. ternyata dilema jga ya pak..
    tapi saya rasa orang tua siswa akan legowo dimintai sumbangan berapapun asalkan dikelola dengan terbuka, dan benar benar ada ujudnya.
    demikian pak semoga pendidikan kita tambah maju.

    salam hangat sll.

  6. pada intinya sekolah di Indonesia belum 100% gratis ya pak???

  7. bapak seorang guru ya? salam kenal

  8. Benar sekali pak. Apalagi memasuki ajaran baru ini, biaya yang harus dikeluarkan untuk masuk SD pasti akan makin mahal. Terutama, uang pangkal dan lain sebagainya. BOS itu hanya akal2an saja sepertinya. Kasihan bagi mereka yang kurang mampu padahal anak2 mereka memilki potensi.

  9. Sekolah di tempat saya mengajar tidak menolak dana BOS, tapi tetap bisa berjalan, Pak. Dana umat yg kada diselewengkan oleh pihak sekolah pun skrg menuai banyak kontroversi….

  10. Harusnya sih seperti itu, subsidi silang. Siswa yang mampu turut membantu temannya yg kurang mampu. Setelah bantuan dari pemerintah tak mampu memenuhi dana operasional sekolah, belum lagi diselewengkan ke sana dan ke sini. Miris.

  11. salam kenal Pak…
    waaaah…pak Guru ya???
    hiks, pengen jadi guru, tapi belom nemu sekolah yang mau menampung(katanya udah kbanyakan guru)

    maaf, OOT😆

  12. Salam kenal Pak…

    Maaf nih pak komentar saya sedikit di luar topik. Saya sedang mengembangkan blog pembelajaran bahasa Inggris Online yang gratis dan terstruktur. Mohon masukan2nya yah pak => http://letspeakenglish.info

  13. harusnya pemerintah yg menyalurkan dana ke sekolah2 itu, bukannya dibebani kepada ortu murid…jangan bilang dana pemerintah kurang, knp untuk membeli laptop anggota dewan, atau apa lah dananya bisa sampai bertriliun2 tersedia…coba deh contoh USA, pemerintahnya menyalurkan dana sebesar 50% untuk pendidikan, dsna sekolah gratis trus dikasih buku2 lagi….selama sekolahnya adalah sekolah negeri…

  14. masalah yg terlalu mudah tapi di muat rumit oleh pihak tertentu….
    selalu saja di komersilkan, bgm masyarakat Indonesia bisa lbh maju? *suara hati*

  15. benar-benar dilema…..
    orang tua murid itu kan ada dua tipe : ada yang mengerti terhadap keputusan sekolah, dan ada pula yang tidak mau mengerti (pokoknya kalau udah gratis, kenapa harus minta dana lagi?? — pasti itu yang ada dipikiran mereka). tapi benar kata Pak Mursyid, “Yang penting harus berkeadilan antara yang kaya dan yang miskin”.🙂

  16. yg seperti ini blm bisa diatasi, masih jd presedent buruk dan masih dilema.

  17. Subsidi silang memang solusi tepat, sayang ruang lingkupnya biasanya baru sebatas ‘intern sekolah/intern daerah’
    Pada akhirnya pendidikan yang bermutu sekaligus yang luas cakupannya tetap menjadi tanggung jawab pemerintah. mampukah? saat ini saya tidak yakin! sungguh menyedihkan.

  18. kampanye pendidikan gratis lebih memnyebabkan kretivitas sekolah stagnan, karena yang digratiskan hanya keperluan minimal, padahal untuk menghasilkan produk bagus perlu terobosan-terobosan kreativ tanpa bermaksud membebani masyarakat.
    saya lebih setuju kalau perhatian pemerintah terhadap pendidikan sangat tinggi, revitalisasi misalnya.
    ternyata banyak sekolah didaerah saya yang belum memiliki saluran listrik dan telepon. Bagaimana hal ini bisa berbicara masalah kualitas?

  19. komen saya masuk spam ya pak

  20. tidak perlu dengan kalimat gratis. tapi standar sarana prasarana seperti
    1. setiap sekolah ada perpustakaan yang lengkap serta ada petugas pustakawan yang relevan
    2. setiap sekolah ada listrik dan saluran telepon
    3. setiap sekolah ada laboratorium beserta tenaga laboranya
    4. setiap sekolah terkoneksi ke jaringan internet secara standar
    dlll

  21. memang tidak ada yang gratis, bahkan seolah yang diwajibkan pemerintah itupun juga membutuhkan biaya.
    Hal yang harus dilakukan adalah sosialisasi terhadap apa itu dana BOS sehingga tidak terkesan pembodohan masyarakat dan kegagapan informasi.

    • Sosialisasi telah sangat gencar baik melalui media elektronik maupun cetak, juga melalui rapat komite sekolah. Seklah juga mesti terbuka jika ada masyarakat yang tanya langsung ke sekolah mengenai itu.

  22. Beberapa daerah yang berani menggratiskan biaya pendidikan khususnya tingkat SMP, keadaannya kadang memprihatinkan, kemajuan sekolahpun kadang menjadi tersendat.
    Menurut amanat undang-undang, sekolah gratis dapat dilaksanakan perlu dukungan dana pemerintah pusat (lewat BOS) dan pemerintah daerah (propinsi dan kab/kota). Pemerintah pusat sudah, pemerintah propinsi dan kabupaten kota ini banyak yang belum sanggup.
    Apa ya harus menunggu bantuan pemerintah jika ada atap yang hampir roboh? Partisipasi masyarakat untuk saat ini memang masih perlu, sepanjan tetap memperhatikan taraf kemampuan ekonomi orang tua wali siswa.
    salam kenal….

  23. jujur untuk akademis seperti ini saya malah awam. bagaimana aliran dana BOS sampe sekarang masing ngambang. kebanyakan yang saya tau malah Dana BOS ilang ditengah jalan. dan yang sampai pada tangan yang benar cuma beberapa persen saja..

    • Lha kalau yang njenengan bilang bener lha seperti apa jalannya roda pendidikan di sekolah tsb? Dana BOS kalau dicakke dengan benar saja super mepet utk membiayai operasional sekolah pada standar sangat minimal. Saya (guru biasa) tahu persis ini karena berkali-kali saya jadi tim perencanaan anggaran belanja sekolah. Mumet!

  24. saya kemaren dimintain tolong tetangga ndaptarin anaknya pak, dimuka sekolah ada onggokan pasir yang katanya mau buat mbangun, tapi tiap hari saya liwat sekolah itu kok ndak dibangun2..pasirnya malah hanyut kalok pas hujan

  25. Yang terpenting Pendidikan Di indonesia perlu di tingkatkan lagi dan juga kesejahteraan untuk masyarakat bawah. thx

  26. berkunjung lagi pak mursyid…
    selamat berakhir pekan dan salam untuk keluarga…

    salam, ^_^

  27. Kalau untuk anak SMA mungkin dapat nggak kak?

  28. Adanya BOS, ditingkat bawah (masyarakat) terjadi banyak salah paham pak. Penginnya ya gratis tanpa adanya pungutan. Salam kenal dari pendatang baru.

  29. Tetangga saya bilang, katanya gratis, kok masih ada SPI pak? Gimana tuh?

  30. Dengan dana BOS, banyak big bos yang juga kebingungan mencari siswa baru pak, alasan masyarakat sangat sederhana, yaitu katanya dengan BOS, sekolah gratis, tapi masih banyak pungutan (SPI, seragam, buku, LKS, dll)

  31. Jargon “sekolah gratis” sungguh bertentangan dengan konsep kemajuan, yakni “jer basuki mawa bea” (kemajuan selalu didukung dengan biaya).

    Salam kekerabatan.

  32. sumbangan untuuk sekolah saya rasa wajar – wajar saja,,kalau digunakan dengan sebaik-baiknya demi kepentingan dan kemajuan sekolah,,saya yakin orang tua murid pun tidak keberatan..

    http://Meidhyandarestablogme.wordpress.com

  33. Memang susah juga ya pak, pemerintah kadung bilang gratis. Akhirnya kita-kita juga yang di lapangan yang kena semprot langsung dari masyarakat.

  34. hari gini memang tidak ada yang gratis, pasti orang tua ada mengeluarkan uang untuk sekolah anaknya walau hanya sedikit

    • Di negara majupun yang namanya gratis tis tis itu gak ada. Di sono justru motivasi masyarakat untuk ikut berkontribusi pada pendidikan sangat tinggi. Mungkin ini karena orang2 sono kebanyakan taraf kehidupannya sdh mapan.

  35. semoga Pendidikan Gratis yang selama ini kita dambakan, bisa segera terwujud, amin

  36. wah mang benar tuh bos, kataY gratis namun masih ada pungutan
    lebih baik kan gak ada semboyan sekolah gratis karna sama aja bohong

    salam kenal jga Y bos

  37. Mas Mursid,
    Sebagai orang tua saya tidak berkeberatan jika saya harus membayar lebih untuk mendapatkan pendidikan yang baik untuk anak saya, dengan alasan itulah kenapa putri-putri saya selalu menempuh pendidikan di sekolah swasta, karena sekolah swasta ditempat saya mampu membuktikan bahwa mereka memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak saya.

    • Saya tidak perlu malu mengakui bahwa beberapa sekolah swasta justru kadang manajemennya lebih baik dari sekolah negeri. Sekolah swasta lebih leluasa mengatur dirinya sendiri dan terbebas dari kultur birokrasi pemerintah yang menurut saya tidak sedikit yang tidak pas. Yang pasti masyarakat sudah sewajarnya ikut peduli terhadap dunia pendidikan di negeri ini, jangan hanya menuntut gratis saja, sebab secara logika sesuatu yg gratis tidak mungkin istimewa.

  38. Kebetulan anak-anak saya satu masuk SMP dan satunya lagi masuk SD,tulisan bapak jadi bahan perenungan buat saya . Terima kasih.

  39. Dan memang tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini…:)

  40. sangat memprihatinkan, tapi memang benar kalau tidak ada yang gratis di dunia ini

  41. Begitulah adanya pak…apa lagi slogan itu juga dimanfaatkan untuk menduduki suatu jabatan…he..he…he… sebaiknya slogan sekolah gratis diubah sekolah bersubsidi azha…

  42. Para orangtua yang mampu seyogyanya juga mau beramal untuk memajukan sekolah anaknya.

    Kuncinya memang kejujuran, maklum soal uang orang gampang curiga dan juga gampang terlena.
    Salam hangat dari BlogCamp

  43. saya kok nggak yakin sumbangan apapun namanya bisa bermanfaat sebagaimana mestinya jika pengelolanya masih memiliki mental korup. dan terbukti pada prakteknya seperti itu meskipun tidak semuanya korup, tetap masih ada orang2 baik dan amanah.
    salam persahablogan

  44. sekarang sumbanga harus bener-bener gedhe
    kalo mau dapet sekolah yang diinginkan
    siap-siap aja

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  45. Your weblog is excellent. Thank you greatly for delivering a lot of very helpful information and facts.

  46. I like Your Article about Kontroversi Sumbangan Dana Orangtua Siswa untuk Pengembangan Sekolah M Mursyid PW Perfect just what I was searching for! .

  47. sumbangan itu harus disalurkan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: