Kepala Sekolah dan Optimalisasi Kompetensi Guru

Mencermati isu seputar pendidikan akhir-akhir ini tak urung membuat saya (guru biasa) merasa harus lebih banyak lagi membaca guna memperoleh banyak referensi ketika harus berargumentasi. Dari hasil baca-baca tersebut lalu mengkomparasikannya dengan realita yang ada maka saya terbitkan entri ini dengan berkeyakinan bahwa kita, pemangku kepentingan di bidang pendidikan, sudah tidak lagi anti saran dan alergi terhadap kritik.

Tulisan ini sama sekali bukan dalam rangka menohok seseorang, melainkan tidak lebih dari sekedar untuk mengingatkan diri sendiri dan kita semua bahwa suatu sekolah agar dapat menjalankan fungsi pelayanan pendidikan yang baik terhadap masyarakat sangat dipengaruhi di antaranya oleh kadar kompetensi kepala sekolah yang memimpinnya. Salah satu factor yang paling menentukan adalah sejauh mana seorang kepala sekolah mampu berkontribusi dalam rangka mengoptimalkan kompetensi guru yang dipimpinnya.

Jika guru memiliki kompetensi yang optimal sudah barang tentu akan dapat menjalankan tugas dan fungsi pokoknya secara optimal pula. Untuk dapat berperan dalam mengoptimalkan kompetensi guru kepala sekolah harus menguasai dulu kompetensi kepala sekolah juga kompetensi guru mengingat kepala sekolah juga seorang guru.

Peran ganda kepala sekolah (sebagai pimpinan dan guru) memang bukan hal yang boleh dikatakan sepele karena ini justru bisa menjadi buah simalakama. Kepala sekolah dituntut harus mampu menjadi guru yang lebih dari guru biasa. Kepala sekolah harus mampu menjadi model bagi guru lain dalam hal apa saja, apalagi dalam hal menyampaikan materi pelajaran di ruang kelas. Jika kini pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM sedang jadi trend, kepala sekolah harus yang pertama dapat menjadi contoh. Jika kepala sekolah harus menagih administrasi mengajar guru, tunjukkan bahwa administrasi mengajarnya sendiri juga telah selesai dikerjakan. Kepala sekolah dalam konteks kekinian zaman tidak cukup hanya dengan tiba di sekolah paling awal dan pulang paling akhir. Wah, jadi kepala sekolah kok ternyata ribet amat, ya? O ya jelas, donk. Ini baru sebagian kecil, pekerjaan administrasi sekolah yang lain masih seabreg yang harus di selesaikan. Resiko!

Pendek kata untuk dapat benar-benar berperan dalam mengoptimalisasi kompetensi guru seorang kepala sekolah seyogyanya juga seorang guru yang benar-benar berkompeten baik dalam kapasitasnya sebagai pimpinan maupun sebagai guru sehingga dapat dijadikan model. Maka tidak sepatutnya seorang kepala sekolah marah-marah dan berperangai sewot berlebihan dengan melontarkan kata-kata menyakitkan pada guru ketika hasil UN jeblok, karena sesungguhnya kegagalan UN juga merupakan kegagalan seorang kepala sekolah dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Juga, sebagai guru biasa, kita jangan membenamkan diri pada kondisi yang biasa-biasa saja. Maksudnya, kita harus lebih banyak lagi bercermin pada kode etik guru dan berpedoman pada tugas pokok dan fungsi kita sebagai guru dengan penuh semangat kreatif dan inovatif sesuai tuntutan profesi sebagaimana  yang  diamanatkan oleh UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 35 ayat 1, sekalipun kita sedang  dalam kondisi dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang menurut kita kurang dapat dijadikan teladan.

Memang yang saya urai di atas terkesan sangat ideal,  dan saya sungguh menyadari bahwa yang ideal itu tidak mungkin 100% dapat dicapai, ya harapannya; setidaknya jangan terlampau jauh dari kategori itu-lah!

46 Tanggapan

  1. semoga saja begitu. toh yg namanya kepala sekolah tetap harus jadi panutan di sekolah itu baik oleh guru lain maupun siswanya sendiri. di samping itu ia juga mengambil keputusan, menetapkan, dan menggariskan kebijakan. wah repot jadi kepala sekolah.. hihi

  2. Maka dalam hal ini, diharapkan yang dipilih menjadi Kepsek adalah benar2 sosok yg berkualitas dan berkompetent.

  3. Benar Pak Mursyid, saya setuju dengan pendapat Panjenengan itu. Sebab, KS adalah pemegang utama kendali motor pendidikan di sekolah.

    Karena itulah, siapa pun yang “mengingini” jabatan KS harus terlebih dahulu memiliki kompetensi yang dimaksud. Tidak berdasarkan “keinginan” tanpa dasar yang konstruktif. Salam kekerabatan.

  4. semua jika pimpinannya baik semua akan menjadi baik….,
    tapi jika pimpinan buruk kemungkinannya buruk semua….

  5. Betul .. pak…sesuai fungsinya sebagai motivator …

  6. karena kepala sekolah adalah ujung tombak kebijakan sekolah, maka yang menjadi kepala sekolah itu harus orang
    pilihan, dan mendukung perbaikan kualitas pendidikan.

    salam,🙂

  7. Terbayang, Pak Mursyid habis dimarahi dengan alasan yang tidak tepat, Duh sayang bukan saya sebagai mendiknas, kalau saya maka persyaratan kepala sekolah adalah memiliki blog yang aktif dengan PR min 1 dan alexa 5 digit. itu juri yang adil, dan semua silakan berlomba untuk jadi KS

  8. kasihan Pak Sastro, minta surat keterangan dri KS yang isinya menerangkan bahwa anaknya berprestasi, sebagai kelengkapan tambahan ikut tes gak dikasih. “Itu urusan pribadi, bukan urusan sekolah”, katanya.
    usulannya selalu dimentahkan, bahkan pak sastro 19 tahun mengajar belum pernah diberi kesempatan menjadi wakil. Saya tahu, bahwa pak sastro bukan tipe ambisius jabatan, tapi khan ya kasihan dia kalau pulang ke jawa bertemu teman-teman seangkatan, tidak ada yangdia banggakan
    halah…kok malah ngelantur

  9. pak guru seorang pembelajar yang baik

  10. Jadi pemimpin itu berat … kalau merasa belum pantas jadi pemimpin mestinya jangan mencalonkan jadi pemimpin.
    Peran Kepala Sekolah dalam sebuah institusi pendidikan sangatlah dominan, meski kita juga tidak mengesampingkan peran tenaga edukatif yang lain. Namun ibarat sebuah mobil, maka KS sebagai sopir yang akan membawa kemana mobil tersebut

  11. Berkenaan tulisan di atas saya punya asumsi bahwa:
    Siswa yang kompeten akan dihasilkan oleh guru yang kompeten.
    Guru yang Kompeten akan ditentukan oleh Kepala sekolah yang kompeten.
    Jika dilihat dari bingkai 8 standat yang telah saya tulis di blog, ketika komponen menjadi poros penting berputarnya roda pendidikan.

    • setuju pak Ahmad, saya sering berteriak tentang kualitas pendidikan dari kompetensi guru dan KS-nya

    • Saya angkat pembahasan ini memang setelah saya banyak mengikuti artikel2 njenengan ( pak A. Sudrajat.) yang kemudian saya korelasikan dengan realitas yang ada di daerah saya.

  12. Beratnya jadi kepala sekolah yang baik…

    • Sebenarnya nggak juga jika awal melamar jadi kepala sekolah semangatnya adalah mengabdikan diri pada pendidikan, bukan memperkaya diri maupun sekedar mencari prestise.

  13. Saya sependapat pak, memang seorang KS harus harus menguasai kedua kompetensi itu kalo mau memajukan dunia pendidikan serta bisa mencari terobosan-terobosan baru yang bisa meningkatkan keprofesionalitas seorang KS dan guru sehingga anak didik bisa sukses.

  14. Kepala Sekolah wajib propesional yah pak
    hohohohohoh

    salam kelaparan karena belum sarapan
    dari blogger abnromal

  15. wah…kepala sekolah yg bersikap seperti itu rasanya hanya sikap membela diri..seakan-akan bukan tanggung jawabnya juga…. *prihatin*

  16. keberhasilan sauatu sekolah dan sebaliknya juga merupakan tanggung jawab sang pemimpin berikut elemen yg ada di dalamnya..
    kunjungan sore…

    salam, ^_^

  17. satu cerminan pemimpin yg arogan dan ingin menang sendiri….huhhh…

  18. Senangnya jika mempunyai sahabat Blog Guru seperti Bapak ini ….

  19. kepala sekolah dan semua stafnya emang punya hubungan timbal balik.:)

  20. saya kangen dengan sosok KS seperti itu Pak, dimana sebuah kebijakan KS berlandaskan kompetensinya yang benar-benar sesuai dan ideal. salam pendidikan.

  21. semuanya tinggal kemauan dari pengambil keputusan dan mampu menjabarkan dan mendelegasikan semua langkah2 agar sukses mengawal peserta didik sampai pada titik optimal.

  22. Kepala Sekolah harus menjadi motivator untuk para guru2 yang lain….
    lia jadi ingat dulu pidato Alm.Kepala Sekolah SD… sedang sakit tapi disempatin datang kesekolah untuk upacara.. dan hari itu dia memaksa untuk mengisi pidato..sungguh pidato yang luar bisa membuat kami dan guru menangis (mungkin pertanda )..dan esoknya alm.meninggal….😦

    Maaf pak jadi curhat…..
    Lia senang bisa kenal banyak GURU di blog

  23. postingan bapak bener2 ‘sekolahan’ bgt… saya selalu ingat masa2 saat jadi guru dulu bila saya berkunjung ke sini… (nostalgia ajah kalau bkunjung ksini,pak.. hehehe.. )

  24. sore…saya berkunjung lagi nih.;)

  25. berkunjung lagi kesini pak, hanya sekedar ingin menyapa dan bersilaturrahmi..

  26. Dalam 3 Tahun ke depan Mendiknas mentargetkan akan melatih seluruh Kepala Sekolah, dan th ini 15ribu…harapannya itu tadi pak menjadi KS yg memahami akan peran gandanya dan menjadi teladan dan leader yg menjadi motivator bagi seluruh warga sekolah dg inovasi2nya…. dan betul unt mempunyai KS yg baik hrs dimulai dr rekruitmen yg baik pula….

  27. berkunjung lagi..:)

  28. Sekarang ini untuk menjadi Kep. Sekolah itu tidak begitu ketat seleksinya, khususnya seleksi sejauh mana profesionalisme seorang guru yang dicalonkan menjadi Kep. Sekolah itu. Mungkin faktor-faktor lain yang lebih menentukan sehingga ia bisa menjadi Kep. Sekolah.

    Semoga banyak kepala sekolah menyadari hal tersebut.
    Terima kasih.

    • Ya, … ya, … sy paham apa yang p Abdaz maksud. Kata kuncinya adalah tim seleksi calon KS harus berorientasi pada ‘kualitas’ si calon KS, dan yang persis mengerti kondisi calon KS adalah pejabat di daerah masing2. Masalahnya sekarang sejauh mana dan sekuat apa tim seleksi bisa bener2 independent, lepas dari segala bentuk tekanan dan intervensi. Jika memang tim seleksi di tingkat daerah sudah kredibel dan benar2 independent sebenarnya tidak perlu lagi pemerintah daerah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengundang tim seleksi lain dari luar. Toh, masyarakat dan seluruh elemen pendidikan di daerah sebenarnya dapat membaca kok jika terdapat keganjilan. Akan lucu jika seorang guru yang sama sekali tidak terdengar gaungnya dalam hal kepositifan prestasi dan tingkah laku, bahkan dikenal antik dan kurang disukai teman sejawat, dengan modal sifat ambisiusnya tiba-tiba dinyatakan lolos seleksi dan kemudian dilantik menjadi KS.
      Sebagai manifestasi positive thinking saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pasti akan tiba gilirannya kebenaranlah yang mengemuka. It’s just a matter of time. Begitu, Pak!

      • Ya itulah pak! Anggota tim juga cari selamat, barangkali kalau ia tidak meloloskan si fulan, maka kedudukan strukturalnya akan digeser (dicopot) sehingga ia hanya menjadi pegawai biasa. Sikap seperti itu juga terjadi pada “mantan guru” yang menjadi pejabat. Salam kenal kembali…..

  29. Assalaamu’alaikum Pak MMursyid

    Apa khabar sahabat guruku ? Selamat hari Guru ya ( di Malaysia hari Guru disambut 16 mei yang lalu).

    Sungguh kita maklumi bahawa guru adalah insan yang banyak masa dengan pelajar di sekolah. Oleh yang demikian, para guru harus diberi kepercayaan untuk mempelbagaikan potensi yang dimiliki melalui segala kemahiran yang ada untuk dilaburkan ke benak pengajarannya di bilik darjah.

    Guru juga perlu memiliki kompetensi bagi lebih mengupayakan proses pengajaran dan pembelajaran. Jika kompetensi guru dioptimalkan, bermakna kebaikan dan peningkatan kemajuan pada pelajar dan proses pengajarannya akan berlaku.

    Oleh itu, pihak kepala sekolah dan pihak-pihak lain yang berkenaan dengan bidang pendidikan, harus mengambil berat dalam memajukan daya kreativiti dan inovasi guru melalui kursus, seminar, bengkel dan seumpamanya.

    Selamat Hari Guru buat semua sahabat guru di Indonesia. Guru adalam pembina negara bangsa dan menjadi inspirasi utama pelajar untuk berjaya. salut kepada semua guru.

    Salam mesra dari saya di Sarawak, Malaysia.

  30. bagaimana jika berlaku seperti perguruan tinggi..
    independensi guru seperti dosen gitu
    bisa lebih maju mengembangkan dirinya..
    salam sukses..

    sedj

  31. bener banget pak guru
    saat ini semakin banyak guru atau kepala sekolah yang tak lagi menjalankan etika profesinya

    • Saya kira tetap masih banyakan yang baik, kok. Kalau ada guru yang nakal itu kan hanya beberapa oknum saja dan tolong jangan digeneralisasi seolah-olah ulah oknum itu mewakili seluruh guru, ya!

  32. Selamat ahri Guru yahh pak mursyidii
    salam hangat sedikit kepanasan karena global warming
    dari blogger abnromal

  33. Minimal standarnya sudah ada, tinggal mencari teknis maksimal menerapkan secara optimal tahap demi tahap..

  34. semoga kepsek2 di negeri ini bisa ikhlas menjalankan tugas dan perannya🙂

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: