Air Mata UN

Tidak berlebihan jika sekolah saya, yang tahun lalu kelulusan UN mencapai 99%, tahun ini menargetkan kelulusan 100%. Usaha maksimal telah kami (sekolah) lakukan mulai dari menyelenggarakan kegiatan jam tambahan pelajaran hingga uji coba (try-out) berkali-kali. Akan tetapi kemarin Jum’at 7 Mei 2010, hasil UN SMP/MTs yang secara serentak diumumkan membuat kami termenung karena meskipun nilai rata-rata dan rangking sekolah kami di tingkat kabupaten mengalami peningkatan cukup signifikan, hasil kelulusan menyatakan bahwa sekolah kami hanya berhasil lulus 93,6 %. Ya, di satu sisi kami boleh bangga karena persentase kelulusan yang kami peroleh lebih baik jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain yang se-level. Namun kami tetap gusar karena dari 6,4 persen siswa yang tidak lulus terdapat 2 siswa yang nilai rata-ratanya jauh melebihi standar minimal kelulusan tetapi harus gagal karena perolehan nilai matematikanya tidak memenuhi syarat lulus.

Sungguh ini jauh di luar dugaan kami. Mereka berdua termasuk siswi yang kemampuannya dalam kategori lebih dari yang lain di samping rajin, periang, dan penurut. Hingga tulisan ini saya buat masih terbersit  jelas di ingatan saya saat mereka membuka amplop pengumuman yang membuat mereka jatuh pingsan, sadar lalu menangis sambil berteriak, “Tidak adil…!”, dan kemudian pingsan lagi, sadar lagi, berteriak lagi dan seterusnya hingga akhirnya mata menjadi lebam dan air mata tak lagi sanggup mengalir di tengah sesenggukan yang terus berlanjut.

Sabar dan tetap tawakal, anak-anaku (yang belum berhasil lulus). Masih ada kesempatan untuk meperbaiki nasib pada Ujian Ulangan nanti. Do’a kami senantiasa ada untuk kalian.

37 Tanggapan

  1. knapa bisa bgitu ya pak…
    lepas dari nilai posisip negatip UN, saya jga lom mengerti ttg keabsahan UN th 2010 ini, bukannya MK sdh memutuskan klau UN sebaiknya ditiadakan tapi kenapa pemerintah ttp jga melaksanakannya. Saya merasa iba dengan kasus murid bapak diatas ,masa si perjuangan anak belajar dalam 1 tahun nasibnya ditentukan hanya dalam 2 jam. ya klau pas pd saat 2 jam mengerjakan soal itu dia dlm kondisi baik, bagaimana klau dia pas kurang sehat, atau stress krn momok UN yg menakutkan itu.
    kenapa nilai harian tdk jadi bahan pertimbangan…??
    kalau kebijakan ini diambil ttu tdk akan terjadi spt kasus murid bapak itu.
    kalau alasannya sistem tdk mengatur yg demikian , kenapa tidak disepakati saja pak?? bukannya kasus yg begini jga terjadi pd UN yg lalu2….
    memang si ada ujian ulangan, tapi menurut sya ini tdk efien alias pemborosan anggaran, dan juga menjadi beban psikologis bagi anak didik kita…

    ok selamat ya pak, sya berikan apresiasi kpda Bpk dan jajarannya yg telah berjuang maksimal demi memajukan pendidikan di negri tercinta ini.
    smoga kedepan sistem pendidikan kita semakin maju dg sistem yang lebih baik.

    mhon maaf jka ada yg kurang berkenan, semata mata demi kebaikan kita bersama, hidup pendidikan Indonesia.

    salam.

  2. emank kayagnya ga adil. tapi menurut saya ini satu2nya cara untuk mencari statistik perbandingan yang sah untuk pendidikan kita.

    • Untuk kepentingan pemetaan mutu ok2 saja UN dilaksanakan, tetapi formatnya nampaknya perlu banyak perbaikan untuk mereduksi dampak negativ yang diakibatkannya.

  3. Ya, saya lebih setuju juga kalau UN itu dihapuskan saja, apa gunanya kalau pengetahuan kognitif saja yang menjadi pertimbangan untuk meluluskan saja, bukankah masih ada ranah afektif, masih ada ranah psikomotorik yang bisa dijadikan patokan untuk meluluskan siswa.

    Saya adalah salah satu anak yang pernah menjadi korban UN, yang pada waktu itu kesehatan saya sedang dalam kondisi yang sangat buruk , wal hasil ngga konsentrasi mengisi soal dan no UN saya tidak keluar.

    Lucunya lagi, ada temen yang terkenal badung dan seneng bolos, ee… dia dapet peringkat 2 terbaik rata-rata nilainya…..

  4. Kalau lihat di TV ada anak dan ibunya meratap2 karena gagal UN rasanya nggak tega Pak.
    Hati kecil saya tetep nggak setuju UN.

    Di satu sisi pemerintah nggak siap dengan daya tampung sekolah ditingkat berikutnya dan juga nggak siap sediakan lapangan kerja, tapi disisi lain memaksakan standarisasi yg bernama UN

    • Karena rasa iba, kemarin sayapun hrs mengasingkan diri di toilet karena ikut kesetrum meneteskan air mata walau satu dua, p Mars.

  5. Duh..semoga anak murid pak Mursyid diberi ketabahan. Saya sering berpikir,seharusnya UN tidak dijadikan satu-satunya indikator kelulusan. Ok UN tetap ada sebagai standarisasi saja.

  6. Menurutku memang tidak adil… Mengapa dasar kelulusan hanya hasil UN saja..? mengapa nilai raport selama 3 tahun tak ada artinya ? Mengapa nilai UN tidak dirata2 saja sehingga tidak ada anak yg gemilang di satu pelajaran tapi tidak lulus di pelajaran lainnya ? Mengapa kelulusan semata mengedepankan kecerdasan akademis saja ? Bukankah tiap anak berbeda ? Mengapa kecerdasan lain (non akademis) dianggap tak ada artinya ? Apakah memang negara ini hanya akan mencetak anak2 yg pandai berteori tapi tak bisa berkreasi dan berinovasi dg hasil pikirannya sendiri ?

    Aduh maaf pak… aku jadi ikutan prihatin…

  7. Padahal yg aku tahu… dalam pelaksanaan UN banyak “kecurangan”… karena beberapa sekolah telah melakukan beberapa cara agar anak2 didiknya dapat lulus semua.
    Jika gurunya aja mengajarkan utk “curang” jangan salahkan muridnya jika kemudian anak2 beranggapan bahwa berbuat curang itu boleh…..
    Biaya pelaksanaan UN yg besar… aku rasa sia2 karena hasilnya tak sesuai dg yg diharapkan.

    Aku sangat berharap ada perbaikan sistem dari pemerintah terkait dg masalah “kelulusan” siswa ini.

    • Kalau tuduhan sampeyan benar, kita semua juga prihatin. Tapi kenyataannya masih banyak siswa yang tidak lulus. Setidaknya saya pribadi tidak suka kecurangan.

  8. Di sekolah kami, untuk penyerahan hasil unas 2010 tak langsung melibatkan siswa, Pak. Kami mengundang orangtua/wali murid, di samping untuk mengantisipasi yang seperti teralami oleh siswi Bapak, juga untuk menciptakan agar anak tak terkonsentrasi di area tertentu yang bisa jadi mengundang “luapan perasaan” mereka yang kadang tak terkendali. Salam kekerabatan.

  9. Kejadian yang sama pernah dialami sahabat terbaik lia..😦
    nilai rata2 nya sangat hebat namun karena satu nilai dibawah minimal akhirnya gak lulus.. Padahal dia anak pintar.. yg lucunya anak bandel malah lulus..

    Dimanakah letak validitasnya…
    Lia merindukan zaman2 kakak kelas dulu yang cukup dengan Tamat ………
    Lulus tidak lulus ini jadi dilema … benar2 dilema😦

    Maaf pak jadi curhat…
    Semoga tahun depan bisa lulus 100 % aminnn

  10. UN buat pemetaan bagus, tapi menjadi penentu lulusan satu-satunya, terlalu prematur

  11. UN ini akan terus menuai kontroversi , baik tingkat SMP maupun SMA. Tujuan UN ini memang baik tapi dalam pelaksanaannya masih banyak kekurangan. Masih banyak kita temukan “ketidakjujuran” dalam pelaksanaannya.

    Semoga murid-murid Bapak yang kelulusannya tertunda bisa mengikuti ujian ulangan dengan baik dan berhasil. Amin.

    Terima kasih.
    Salam

  12. Sepertinya lebih bijak ditinjau ulang mengenai standarisasi kurikulum pendidikannya agar cocok dengan standar ujian nasional pada setiap jenjang sekolah.

  13. Kasihan juga ya Pak, siswa yang tidak lulus, semoga ada langkah yang lebih arif dilakukan untuk membantu mereka.

  14. Sistem pendidikan kita yang tidak adil mas, Guru-guru ( seperti mas Mursid dan Mas Marsudiyanto ) sudah berupaya maksimal memberikan pola pengajaran yang melebihi standard, tetapi konyolnya kelulusan siswa kita hanya ditentukan dengan ujian nasional.
    Ditempat saya ada sekolahan yang tidak lulus 100% dan wajar saja karena para pembuat soal ujian tidak pernah mempertimbangkan sekolah-sekolah dipedalaman yang gurunya satu sekolahan hanya satu orang ( mengajar dari kelas 1 sampai kelas VI ). Jujur mas, sering kali emosi saya tidak terbendung jika bicara mengenai masalah ini.

  15. Menurut saya, sudah saatnya UN dikaji ulang… mengingat ketidakmerataan kualitas sekolah…

  16. Mungkin perlu dipikirkan untuk tidak menyamaratakan materi ujian. Salam sukses.

  17. semoga untuk di ujian ulangan menjadi lulus semua

  18. saya bisa memaknai tulisan yang begitu dalam ini
    saya mungkin berpendapat bahwa 93,4% itu dah sangat bagus… tetapi Pak Guru membawa perasaan dari 6,7% siswa yang tak beruntung… salut pak Guru… salam sukses buatmu dan para siswa selalu….

    sedj

  19. Salam kenal Pak Mursyid ….. sayangnya pelajaran sabar dan tawakal jarang diberikan .. jadi banyak yang putus asa …

  20. Gagal UN bukan akhir segalanya, perjalanan masih panjang, setiap kegagalan merupakan proses kesuksesan. Berusaha dan berdo’a kelak menjawab setiap kejadian yang dialami

  21. Mereka harus tahu bahwa tidak lulus adalah pembelajaran mental. Kuatkah mereka dalam menghadapi. Lha yang lulus saja ternyata juga tidak kuat mental yang akhirnya melakukan corat-coret dll.
    Kita harus membiasakan pada anak-anak kita untuk gagal. jangan melebih-lebihkan, jangan coba-coba bilang sabar dan menghibur karena mereka sendiri sudah lebih siap sebenarnya dalam menghadapi.
    Tidak ada UN, kira-kira siswa belajar gak ya. Ada UN, ada SKL, Try out berkali-kali dan tidak lulus berarti siswa tersebut juga perlu dipertanyakan sebenarnya. Dulu tanpa SKL, pra ebta juga cuma sekali dan siswa tidak lulus harus mengulang setahun lagi, nyatanya biasa-biasa saja.
    Mereka juga perlu di pahamkan bahwa dalam dunia yang sebenarnya nantinya hanya ada dua kemungkinan, diterima atau tidak dan seterusnya. Ini bagian dari pengalaman mereka.
    Sepandai-pandai tupai melompat, jatuh juga kata pepatah

  22. terlalu banyak yang dikorbankan hanya untuk UN, ambisi pemerintah yang tidak mau bekerja dengan sungguh2 untuk memperbaiki kualitas pendidikan itu sendiri tapi ingin dikatakan berhasil dan bekerja dengan nilai2 “darah” yang standar tinggi sebagai pembuktian.

    Sabar dan tawakal, benar Pak, semoga anak2 itu memahami bahwa bukan mereka yang salah tapi sistem itu yang membuat mereka menjadi salah.

  23. lepas dari kebijakan pemerintah soal UN, nampaknya banyak sekolah yg berani lebih jujur dengan penyelenggaraan UN tahun ini. mungkin krn UN tahun ini siswa yg belum lulus bisa mengulang di UN tahap 2. Smoga pemerintah bisa membaca fenomena ini, silakan UN diselenggarakan untuk pemetaan dan dlm upaya standarisasi pendd. kita, tetapi jangan gunakan UN sebagai “palu” untuk lulus/tidak lulus siswa. Kita tidak ingin UN menimbulkan trauma berkepanjangan pada generasi kita!

  24. di akhir Un…. pasti selalu ada banjir air mata….
    air mata kekecewaan & kegembiraan…..,

  25. semoga sekses……….

  26. semoga sukses……..
    terus berjuang………

  27. saya tidak setuju dengan UN…

  28. menurut saya agar tidak menjadi beban psikis bagi siswa lebih baik istilah lulus dan tidak lulus harus dihilangkan, diganti dengan istilah “BERHASIL tapi harus mengulang mata pelajaran : …….. ” .bukan bermaksud memperhalus bahasa, tapi sudah banyak korban yg timbul gara2 istilah tidak lulus itu, padahal dia hanya diminta untuk mengulang satu mata pelajaran saja

  29. Kelak, kalau pun ada UN namun lebih bijak lagi cara penyelenggaraan dan penentuan kelulusannya🙂

  30. Lumayan Lo Pak tempat Anda dibanding sekolah yang lain, meskipun kasihan juga buat yang ndak lulus. Bayangkan saja soal yang diberikan di tempat Pak mursid dengan yang dikerjakan di sekolah RSBI kok sama. Jadi sungguh luar biasa menurut saya. Nah kalo yang di RSBI juga ada yang ndak lulus ini baru kejutan. Lha wong taraf internasional kok kalah dengan tingkat ndeso. isiiinnnnnn. bubarke wae RSBI ne kayak di tempatku nih pak. SKM nya saja 7.0 lha kok kalah sama yang SKM nya 5.0 . opa ra ngisin-ngisenke. RSBI = rasakno saiki bocahe iyoralulus. salam kenal dari lereng gunung slamet.

  31. saya jadi ikutan sedih juga pak kalau ingat waktu pembagian hasil kelulusan ….

  32. kadang hasil UN tuh ga bisa diprediksi… anak yang pinter kadang nilainya malah jelek… seperti kabar yg saya dengar dr tanah air, ada murid saya dia pinter, tapi nilai UN MTKnya anjlok n ga lulus…😦 (UN SMA)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: