Ujian Nasional (UN) yang Telah Berubah Wajah

Jika kita cermati dengan seksama sungguh UN memang telah berubah wajah dari Alat Pemetaan Mutu Pendidikan menjadi Monster yang sedemikian menakutkan dan menghantui siapapun yang terlibat di dalamnya mulai dari siswa beserta orangtuanya, guru pengampu mata pelajaran yang di-UN-kan, kepala sekolah, hingga aparat dinas pendidikan dan pejabat di tingkat daerah.

Sedemikian mencekamnya suasana setiap menjelang UN sehingga menimbulkan perilaku berlebihan sebagai manifestasi dari kepanikan. Coba kita perhatikan fenomena unik berikut ini:

  • Hampir setiap sekolah bahkan kadang sampai di tingkat daerah dibentuk Tim Sukses UN. (Istilah Tim Sukses dalam konteks ini lebih sering mengandung makna konotasi negative)
  • Mata pelajaran selain mata pelajaran UN seakan terabaikan sehingga terkesan tidak penting lagi. Yang dibicarakan selalu UN, UN, dan terusssssss … UN.
  • Setiap sekolah melaksanakan kegiatan tambahan jam pelajaran khusus untuk mata pelajaran UN. Uji Coba (Try-out) pun diagendakan untuk dilaksanakan berkali-kali. Tidak cukup hanya dengan itu, beberapa sekolahpun  menyelenggarakan acara do’a bersama (Istighotsah) sehingga UN seakan menjadi hajatan besar yang sangat disakralkan. Bahkan kadang sekolah berani mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit guna mengundang seorang motivator.
  • Ada juga cerita tentang siswa yang secara perorangan membawa pensil yang akan digunakan untuk mengerjakan soal UN ke paranormal untuk memperoleh jopa-japu dengan harapan pensil tersebut akan menjadi pensil sakti.
  • Lembaga-Lembaga Bimbingan Belajarpun  setiap menjelang UN menjadi over-loaded oleh siswa.

Fenomena di atas semakin mengukuhkan kebenaran bahwa memang kita masih lebih menyukai segala sesuatu yang bersifat instan. Akankah kita terus membiarkan diri terbelenggu oleh kultur yang buruk ini?

Sesungguhnya memperbaiki proses (proses pembelajaran sehari-hari) jauh lebih utama dari segala aksi temporer seperti yang diurai di atas, dan andai saja budget cukup besar yang dianggarkan guna persiapan UN diperuntukkan guna meningkatan kwalitas proses tersebut, barangkali keadaannya akan berbeda. Juga tidak kalah pentingnya, orang tua siswa agar maklum dan sadar bahwa memperhatikan intensitas putra-putrinya dalam belajar mesti dilakukan sehari-hari, bukan hanya saat menjelang UN saja.

Sebagai penutup, proses pembelajaran yang nota bene merupakan sebuah proses memperoleh pengalaman belajar seyogyanya lebih mendapat prioritas perhatian. Logikanya, kwalitas proses pembelajaran akan berbanding lurus dengan hasil tes, ulangan, atau ujian atau apapun sebutannya. Pendek kata, jika proses baik tentu hasil akan baik.

(Rujukan:  Dr. Nugroho, M.Psi.)

67 Tanggapan

  1. Bener banget pak…

  2. UN membuat siswa hanya sebagai “mesin” penjawab soal

  3. Memang perlu perubahan yang radikal, tapi entah gimana caranya. Padahal pendidikan adalah gerbang masa depan. huaaaa :((

  4. Kalo yang begini susah melihat siapa yang salah. apa memang pemerintah yang pengen terlihat banyak kerjaan, guru yang jadi tim sukses, ataukah siswa yang cuma malas belajar. oh y, juga orang tua yang cuma pengen tahu anak mereka lulus, n kalo ga lulus malah nyalahin sekolahnya.

  5. Lha itu pak, masalah beginian yang kadang pemerintah tidak bejitu memperhatiken. Apalaji ada sotndelot nyang ndadak diisi ngelmune syaithon itu, kan jadi musyrik ya pak.😀

  6. Muga-muga wae kabeh lulus pak bocah-bocahe dw, iki wis sistem, dadi angel nek wong cilik kaya awake dw iki meh protes. Isone kan mung nulis ngene iki ra?😆

  7. UN malah menjadi hari yang begitu menakutkan bagi siswa…

  8. ya.. UN telah menyebabkan PAIKEM menjauh dari suasana belajar seperti pada tulisan UN tersangka utama raibnya PAIKEM

  9. seputar UN memang senantiasa membawa ceritanya sendiri. Pro kontra berlanjut. Konon UN itu proyek sih….

  10. udah lama ga ngikutin soalsoal UN hehhee

  11. waktu aku SMA, siswa kelas 3 dapat tambahan jam pelajaran sebelum masuk sekolah, jadi jam stgh 7 sudah harus masuk… selain itu try out juga gencar… tetapi lebih ke arah UMPTN bukan ke UN (yang dulu namanya EBTANAS)

  12. iya, harusnya anggaran untuk persiapan UN lebih baik digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar .. jadi hasilnya pun bersifat long-term …

    untung saja dulu UN waktu zaman saya cuma dianggap sebagai formalitas aja,,jadi going easy aja waktu ujiannya, gak kayak sekarang, UN jadi mengerikan hehehehe …

  13. Salam Kenal …
    Saya tahu blog panjenengan dari hasil saya berkunjung ke blognya pak A. Sudrajat dan mudah=mudahan silaturahim menambah panjang umur, rejeki yang banyak dan hallal, …
    Untuk UAN = Ujian Akhir Nasional bukan ujung-ujunganya Aku Nyontek atau lebih parah … tipu menipu diri sendiri ibarat jeruh mimun jeruk …. pak, bu guru, pak, bu kepala sekolah, pak, bu Kepala Dinas, dengan bangga mereka berkata ” Anak muridku lulus semua, dengan rata-rata tujuh koma lima berkat hasil try out 3, 4 kali bakan 9 kali”
    Inilah Indonesiaku ……
    Sekarang berani taruhan sekolah mana yang berani jujur. … nilai apa adanya … Coba kalau berani pak polisi suruh mereka merasia HP siswa-siswa yang mau ujian …… bukankah ada ujian ulang ….

    • Saya sangat merasakan betapa anak2 saya “banting tulang” dalam rangka supaya lulus UN. Dan saya sbg orang tua merasakan sendiri beta “sakitnya” tidak lulus UN krn anak saya mengalaminya. Saya bangga krn sekolah anak saya masih menjunjung tinggi moralitas walaupun kemudian yang tidak lulus sampai 13 rang. Sementara ada sekolah ecek2 yang 100% lulus. Paket C juga nggak lulus dan lulus setelah ngulang paket C.
      Saya sedih krn ketidak lulusan siswa hanya didasari dari UN akibatnya orang nyari2 yang instan. Dan ini akan bahaya untuk masa depan bangsa

  14. kalau menurut saya, lebih baik penilaian ujian jangan memakai sistem komputer. Sebab rata2 murid akan jeblok ketika pada penilaian.

    Saya mengalami sendiri kenyataan ini. Dulu ketika masih sekolah, materi yang diujikan hampir bisa saya kuasai. Namun ternyata, ketika melihat hasil akhirnya, betapa memilukan. jauh dari bayang dan harapan. Dan teman-teman seperjuangan pun mengatakan demikian.

    Dan ada bocoran dari beberapa pihak, ketika ngurek2 bunderan keluar dari garis, maka dianggap salah. Yo jelas bubrah klo gitu……😦

  15. matursuwun pak wis mampir nyang blog q.

    Itulah pak dilematis pendidikan kita, lulusan pendidikan di negeri kita hanya diutamakan agar menjadi generasi yang pinter menjawab soal, bukan pinter mencari akar persoalan.

  16. saya sependapat kalo yang perlu diperbaiki adalah proses belajar sehari -hari nya. mutu hasil lulusan2 sekarang masih sangat jauh dari harapan..contoh kecil saja, seorang lulusan SMK atau lulusan sarjana teknik..sangat kecil yang benar2 menguasai ilmu yang telah di pelajarinya..buntut2 nya ijazah hanya untuk modal cari kerja..seharusnya mereka bisa mandiri, mencipatakan lapangan sendiri..

  17. saya kira berubah wajah menjadi dulunya melingkari buletan jadi ujian essay. hehehe…

  18. nggeh pak emang begitu klo dibuat pansus untuk UN memang sering dikonotasikan negatif..

    matur suwun sampun mampir pak..
    wonten bagian ke-2 dirumah kulo

  19. makasih udh berbagi pak, smoga ade2 (cieee) dikuatin mentalnya ngadepin UN

  20. saya berharap bahwasanya UN adalah standart minimal dari suatu kualitas hasil pendidikan yang telah diberikan pada seluruh sekolah di bangsa ini. Bukan berpatokan pada nilai teteapi kepada kemampuan standart siswa.

    Misalnya soeang guru pada seluruh sekolah di nusantara ini pada pelajaran “”XX” telah mengajarkan “XXA, XXB, XXC, XXD” maka pada UN sepatutnya kita menguji maksimal haya sampai “XXD” tidak lebih dari itu, jadi jika siswa tidak bisa maka sudah pasti memang ada yang salah dari siswa / sistem pengajarannya / kondisi penunjang yang tidak memungkinkan.

  21. fenomena diatas memang benar tuh adanya. dengan adanya UN memang menjadi hantunya bagi siswa-siswi. semoga aja para siswa pada kuat & selalu mudah dalam menjawab setiap soal2 yang ada.

    sukses selalu Pak n tetap semangat

  22. ade mau unas nih…..
    semuanya,
    ade minta doanya ya agar ade bisa lulus.

  23. ia yah….
    makanya itu yuni sekarang setuju sama MK.
    ga usa ada unas deh.

  24. Saya yg tetap setuju diadakan UAN. Dng syarat:
    Tidak dijadikan icon busines depdiknas untuk korup anggaran negara,
    Bukan sebagai standar kelulusan tetapi hanya melihat kualitas standarisasi pendidikan. Hasilnya digunakan sebagai evaluasi untk meningkatkan standar guru/ materi ajar di daerah yg kurang.

  25. masa senandung ujian nasional.. penuh dengan hal yang lucu dan bikin deg-degan waktu jaman ku dulu.. Anyway, UN bukan jaminan keberhasilan tapi merupakan jaminan lulus.. Selamat menempuh UAN.

  26. inilah negeri kita…. tanah air ku… tanah air mu.. tanah air kita semua… Mari kita mulai perbaiki dri diri kita sendiri..😀

  27. Assalaamu’alaikum

    Salam kunjungan buat sahabat guruku Pak MMursyid di hujung minggu dan semoga berbahagia dengan segala aktivitas yang dijalankan bersama teman dan keluarga. salam ceria dari Sarawak, Malaysia.

  28. UN, horor?

  29. Sekarang malah sudah ada iklan layanan masyarakatnya (yg saya dengar di radio – nggak tahu di TV) yang intinya UN adalah program pemerintah yg tak perlu ditakuti.

  30. SETUJU SEKALI PAK SEKARANG UN MENJADI MOMOK YANG SANGAT MENAKUTKAN… BAHKAN BANYAK ANAK-ANAK YANG STRESS SEBELUM BERPERANG…
    BAGAIMANA TIDAK.. SUDAH DILAKUKAN TRYOUT TERNYATA HANYA BEBERAPA SISWA SAYA YANG NILAINYA DIANGGAP LULUS DAN HAMPIR 90% GAGAL…
    SUNGGUH SANGAT MENAKUTKAN SEKALI ….

  31. semoga anak-anak kita bisa lebih tabah dan terus berusaha supaya bisa lulus semua pak… amin…

  32. Artikel yang benar2 informatif sekaligus menggugah para insan pendidik!

  33. iya betul. . . tp kasian juga klu memaksa buat UNAS @_@,tp moga2 semua Luluz Amien. . .

  34. berubah wajah atau format sih boleh saja… asal menuju ke arah yang lebih baik untuk mencerdaskan bangsa

  35. semoga saja ada perubahan yang benar-benar mambawa dunia pendidikan Indonesia menjadi lebih baik

    selamat malam & selamat beristirahat

    -salam hangat-

  36. berubah atau tidak,
    UN tetaplah sebuah
    arena yang ‘menakutkan’
    bagi para peserta didik….

  37. UN pasti akan menakutkan bagi siswa yang akan mengikuti UN tsb, karena mental dan pemikiran siswa akan menjadi takut dan mereka akan berusaha agar supaya lulus walaupun dengan cara2 yang dilarang atau curang. ibaratnya siswa dipaksa sebagai mesin yang harus siap jalan walau gak ada bahan bakarnya.. heuheuheu..😉

    semangat buat peserta UN.. moga lulus semua dengan hasil yg memuaskan..😀

  38. kata JK : hanya di Indonesia, presiden digugat sama peserta UN yg ga lulus🙂

  39. fakta-fakta yang menarik seputar UN..
    banyak kasak kusuk,
    sehingga banyak yang ingin UN tetap diadakkan..
    salam kenal pak Guru…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  40. Yang penting menuju ke arah yang lebih baik… tetapi melihat tulisan ini, sepertinya banyak gambaran ke arah yang lebih buruk.

  41. Saya selalu kehilangan murid saya si PAIKEM bila menjelang UN. Hari-hari mengajar selalu berusaha dengan soal-soal agar mereka siap UN.
    Siswa kursus saya makin habis bila menjelang UN. Mereka beralih belajar soal-soal yang pasti tidak akan keluar lagi.
    Parahnya lagi, saya selalu masuk ruang isolasi bila UN, di penjara dalam ruang sempit. HUHH!!!!

  42. Apa ada yang salah ya pak? siapa yang bertanggung jawab?

    • Bukan kapasitas saya unuk menjastifikasi siapa salah siapa benar. Wong cilik seperti kita hanya bisa nggedumel. Diperhatikan syukur, tidak ya gak papa.

  43. Ada yang bilang, supaya siswa di suatu sekolah bisa lulus semua, kepala sekolahnya harus rajin2 ngurus…
    Nggak tau apa yang diurus dan kemana??
    Hmm… mungkin ini yang bapak bilang ‘negatif’ itu ya…

  44. Akhirnya siswa diarahkan untuk mendapat nilai bagus dalam UN bukan mendapatkan pelajaran atau ilmunya.

  45. membaca berita tentang tryout UN yang nilainya jeblok…… dan para lembaga bimbel (bimbingan belajar) tidak mau disalahkan, jadi terkesan seolah bimbel yang mengambil alih fungsi guru di sekolah sehingga tidak mau disalahkan jebloknya nilai tryout UN.

    UN benar2 mimpi buruk … bagaimana bisa soal ujian sama untuk sekolah Lab school Jakarta dengan sekolah di pelosok daerah Kalimantan atau Papua misalnya …

  46. UAN harusnya menjadi batu pijak bagi anak didik kita bukan malah menakuti mereka

  47. WAH MEMANG GARA-GARA UN SEMUANYA JADI TEGANG PIYE CARANE BEN SISWANE LULUS CARA BAIK ATAU JELEK ADA YANG SISWANYA KELUAR KE WC GANTIAN , ADA GURUNYA BANTU JAWABAN, ADA YANG MEMODIFIKASI TMPAT DUDUK SISWA DAN CARA -CARA CURANG LAINNYA UNTUK MEMPERTAHANKAN HAGRA DIRI SEKOLAH SUDAH PUAS LULUS 100 %. MEMANG DUNIA MAU KIAMAT KALAU GAK LULUS.APAKAH INI GAMBARAN MORAL BANGSA INDONESIA

  48. perasaan dulu jamannnya saya sekolah, semua bisa terlewati dengan baik mas. nggak tau jaman sekarang, UN menjadi momok yg menakutkan, kerasa banget karena sepupu saya juga ngalamin.

  49. Setuju Pak Mursyid,
    Karena segala sesuatu yang sifatnya instan tidaklah memberikan hasil yang maksimal.

    Paling-paling hanya sedikit yang mendapatkan manfaat akselerasinya.

    Kalau prosesnya yang diperbaiki, insya allah akan meningkatkan hasilnya secara masal dan berkesinambungan.

  50. UN menakutkan. bikin stress..😉

  51. semoga saja bisa memajukan pendidikan negri ini…,

  52. Sebenarnya semua pendapat ttg un n tujuan un benar semua kalau dilihat dari alasan masing2…masalahnya kita perlu aturan n ada yang ngatur, karena kalau lihat sejarahnya semua sudah pernah dilaksanakan…tp sepanjang itu pula selalu ada perbedaan pendapat…

    • Iya juga, tapi kedudukan EBTANAS (dulu) dengan UN (skrg) memang beda. Dulu tidak ada istilah lulus EBATANAS skrg ada lulus UN. Inilah biang kontroversinya.
      Bagaimanapun juga kita, pelaksana aturan dan kebijakan, bisa apa selain berusaha menyukseskannya. Semoga tahun ini hasil UN daerah kita tidak seterpuruk sebelumnya.

  53. arek2 sekulah skrng diperes teruz otakna hehehehe…..apalagi mo UN gini xixixi…duh rek kasian begete😦

    salam sayank….

  54. moga aj UN thun dpan g ad… bnr2 tak mendidik…

  55. Semoga siswa yang mengikuti UN lulus semua
    Amin

  56. Mampukah UN tahun ini meminimalisasikan kebocoran … dan tindakan tidak terpuji lainnya…

  57. UAN menakutkan bagi saya saat itu,adik saya juga merasakannya. saya harap sih uan ga ada lagi ^^

  58. senang rasanya masih bisa berkunjung di rumah sahabat di akhir pekan ini, salam dari kalimantan tengah 00:18

  59. Ya begitulah Pak, rusak moral kita jadinya. Gak bantu salah, bantu salah. Belum lagi Gayus dari Jakarta yg ke daerah untuk membantu daerah supaya sukses. Kenapa BSNP kok percaya hasil UN, padahal di pedalaman sangat leluasa menjalankan aksinya krn TPI aja malas datang karena daerahnya sulit dijangkau.

  60. Again, a good comment, thanks a lot. I wanted to say I just scanned other posts on here and I liked what I saw. I’ll be back.

  61. Yet another nice post, I like it. I’ve scanned your earlier posts around here and I enjoyed it. I’ll be back.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: