Penentu Keberhasilan Belajar Siswa Bukan Hanya Guru

Sebagai salah satu pengemban profesi guru sungguh saya menyayangkan bahwa sejauh ini yang mengemuka adalah kesan betapa gurulah yang lebih sering menjadi salah satu pihak tertuduh sebagai kambing hitam atas carut marut  pendidikan di negeri ini. Masyarakat sedemikian antusias menyimak dan berkomentar ketika media massa lebih banyak memberitakan hal-hal negatif mengenai guru. Tidak kalah antusiasnya, para pejabat pun dalam pidatonya tidak jarang mencibir dan terkesan menyudutkan guru ketika hasil UN kurang menggembirakan. Mereka seakan lupa dan abai akan teori belajar yang jelas-jelas menyebutkan bahwa selain guru terdapat faktor-faktor  lain yang memegang peranan sangat strategis dalam menentukan keberhasilan siswa dalam belajar.

Saya tiada henti-hentinya menegaskan kepada para siswa bahwa salah satu ciri khas belajar adalah proses mengulang-ulang. Bahkan pagi tadi saya kembali menegaskan hal itu dengan menanyakan kepada siswa kelas IX yang sebentar lagi menempuh ujian, “Hayo terus terang saja, siapa diantara kalian yang di rumah suka membaca/mempelajari kembali/mengulang apa yang sudah dibahas saat Kegiatan Belajar Mengajar di kelas?” Tak satupun siswa menjawab. Lagi, saya lontarkan pertanyaan, “Kalian di rumah tidak pernah belajar?” Sebagian besar siswapun memberi respon dengan manggut-manggut, alias mengi-ya-kan. Resiko akan keadaan ini, mengingat memory span manusia terbatas, ya lupa.

Contoh kasus di atas kiranya perlu dianalisa, mengapa siswa malas belajar saat mereka tidak berada di sekolah.  Menurut pendapat saya hal ini lebih disebabkan karena faktor kurang adanya motivasi. Guru, orang tua, dan masyarakat sangat menopang guna terciptanya motivasi ini. Selain motivasi  tentu masih banyak faktor lain yang mempengaruhi seberapa jauh siswa berhasil dalam belajar.  Secara garis besar faktor-faktor tersebut antara lain:

Faktor Internal

Biologis

  • Kondisi fisik yang normal atau tidak memiliki cacat sejak dalam kandungan sampai sesudah lahir; meliputi keadaan otak, panca indera, anggota tubuh.
  • Kondisi kesehatan fisik. Kondisi fisik yang sehat dan segar sangat mempengaruhi keberhasilan belajar. Di dalam menjaga kesehatan fisik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain pola makan dan minum, olahraga teratur serta cukup istirahat/tidur.

Intelegensi

Faktor intelegensi besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan belajar anak. Gardner, dalam teori Multiple Intellegencenya menyatakan bahwa intelegensi memiliki 8 dimensi, yaitu:

  • linguistik
  • musik
  • matematik logis
  • visual spesial
  • kinestetik fisik
  • interpersonal
  • intrapersonal
  • naturalistik

Psikologis

Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan belajar adalah kondisi mental yang mantap dan stabil.

Minat, Motivasi, dan Bakat

  • Minat yang besar terhadap sesuatu terutama dalam belajar akan mengakibatkan proses belajar lebih mudah dilakukan.
  • Motivasi merupakan dorongan agar anak mau melakukan sesuatu. Motivasi bisa berasal dari dalam diri anak sendiri ataupun dari luar. Motivasi inilah yang menurut saya yang paling dominan dalam menentukan siswa akan berhasil dalam belajar atau tidak. Peran guru, orang tua, dan lingkungan masyarakat sangat sangat signifikan dalam membangkitkan motivasi ini.
  • Bakat, bukan menentukan mampu atau tidaknya seseorang dalam suatu bidang, melainkan lebih banyak menentukan tinggi rendahnya kemampuan seseorang dalam suatu bidang.

Cara belajar

Meliputi teknik belajar, bagaimana bentuk catatan di buku, pengaturan waktu, tempat serta fasilitas belajar.

Faktor Eksternal

Lingkungan Keluarga

Faktor lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang. Suasana lingkungan rumah yang tenang dan damai, adanya motivasi dan perhatian orangtua terhadap perkembangan belajar anak-anaknya akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa.

Lingkungan Sekolah

Hal yang paling mempengaruhi keberhasilan belajar siswa di sekolah meliputi pendekatan dan metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, hubungan siswa dengan siswa, pelajaran, tata tertib yang ditegakkan secara konsekwen dan konsisten, juga sarana dan prasarana yang tersedia.

Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi belajar siswa. Lingkungan masyarakat yang berpendidikan dan bermoral baik sangat mendukung keberhasilan siswa dalam belajar.

Sebagai penutup, tulisan ini bukan semata-mata merupakan bentuk pembelaan diri guru, melainkan lebih bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kita semua bahwa pendidikan sesungguhnya merupakan hal yang kompleks yang menjadi tanggung jawab kita bersama dan salah satu solusi mereduksi permasalahan edukasi di negeri ini adalah mengoptimalkan sinergi antara pihak sekolah dengan keluarga dan masyarakat dimana siswa tinggal.

Beberapa teks pada post ini disadur dari tulisan saudara Indra.

80 Tanggapan

  1. Menurut saya mas, bukan hanya Faktor guru dan segala kreatifitasnya. Tetapi tidak ertelepas dari peranan orang tua yang ada dirumah.

  2. Selamat siang Mursyid, faktor yang diatas semuanya betul tapi ada yang paling dominan diantara semuanya yaitu kemauan/tekad dari siswa itu sendiri. Krn gurunya hebat jika tdk didukung siswanya juga akan hancur, Sarana nya lengkap jika tdk dikukung kemauan siswanya juga hancur, Yang terpenting adalag tekad kemauan dari siswa itu sendiri. Sehingga tantangan yang ada akan terlewati dengan baik. Terima kasih sharingnya, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

    • saya sependapat, ibarat sekolah akan menjual masakan, siswa adalah bahan mentah, sedangkan guru adalah kokinya, sehebat apapun sang koki, kalau bahan mentah tidak memenuhi standar, maka akan dihalsikan masakan yang tidak berekualitas. Namun tentu tidask sesederhana itu, banyak faktor memang untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas : ada quality control, quality assurance, quality improvement untuk menentukan capacity buliding
      sukses untuk pak mursyid

  3. seandainya semua faktor di atas bisa di maksimalkan dan saling mendukung, anak2 bangsa akan cerdas dan bangsa ini akan cepat mengejar negara maju…

  4. komenku kok gak masuk

  5. segala faktor rupanya ya pak harus mendukung :p

  6. Selamat berlibur pak🙂
    Semoga selalu ceria beserta keluarga😛

  7. guru yang baik adalah guru yang mampu menginspirasi anak didik. banyak faktor memang yang bisa membuat anak didik. bila anak didik tidak sukses, lalu guru yang disalahkan, itu karena memang pola pikir yang ada di masyarakat sudah seperti itu. guru adalah tangan tuhan. berarti selain mendidik anak, orang tua juga perlu dididik agaknya pak.

    • Orang tua juga perlu dididik? Agaknya bener juga, Pak. Maksudnya, pemerintah memang mesti lebih getol menyosialisasikan betapa peran orang tua juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar putra-putrinya.

  8. kalau dirumah tidak belaja lagi, bagaimana ilmu yang diberikan bisa diserap ? lagi-lagi faktor keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh.
    Percuma saja belajar di sekolah, kemudian les privat tapi kalau semua pelajaran tidak diulang, ibarat masuk telinga kanan keluar telinga kiri, sukur-sukur ada yang nyangkut ….

  9. Semua faktor tersebut memang penting pak…
    salam persahabatan dari Malang pak mursyid

  10. Malang? Dulu beberapa saya kesana utk njenguk adik yang sedang kuliah.
    Salam juga, kang Tejo.

  11. Tantangan dan ujian utk belajar pada zaman sekarang, beda banget dgn yg dulu. Sekarang lebih banyak godaan dan faktor penghambat lainnya. Jadinya, seorang siswa dituntut utk lebih semangat dan sungguh2 dalam belajarnya. Menurut saya, pengaruh luar lebih dominan mempengaruhi proses belajar siswa. Jiwa anak sekarang lebih banyak yg labil dan mudah ikut arus, dan kadang tanpa memfilternya. Ini yg sebenarnya harus disadari oleh semua pihak. Memang, memvonis itu lebih mudah daripada memperbaiki.
    Maaf kalo koment saya rada mbulet…hehe😀

  12. wow komplit dech ulasanya hmmm benar emang kesuksesan belajar tidak akan bisa dengan menonjolkan 1 faktor

    berkunjung ditunggu kunjungn baliknya

  13. Hadir untuk menjabat erat sahabat dekat.
    Salut untuk postingan Pak Mursyid, mohon ijin menyerap infonya. Ibarat sepeda motor, agar bisa sampai tujuan dibutuhkan kinerja semua onderdil yang harmonis dan saling menunjang.
    salam hangat jabat erat dariku.

  14. Faktornya banyak banget ya pak. Lalu faktor mana yang paling dominan pak? Salam kenal nih dari Mariska di Kendal Jateng pak. Pendatang baru nih.

    • Menurut saya, semua faktor tersebut sangat penting, namun yang paling dominan agaknya motivasi. Ya, motivasi. Tapi perlu juga diingat bahwa timbul/bangkitnya motivasi selain dari dalam diri siswa sendiri, juga sangat ditentukan oleh guru, orang tua, dan masyarakat.

  15. Sayangnya saya sudah nggak sekolah mas. Jadi sudah banyak lupa tentang belajar. Salam kenal ya mas. (Eny-Semarang)

  16. Kalawo di tempat ane nyang paling nyebelin justru faktor wong tuwa ki pak. Dha parah-parah wong tuwane banyak nyang bermasalah. Dampaknya bisa ditebak, anyaknya lebih parah. Lingkungannya juga.😆 Pripun kabarnya Kalongan pak? Insya Alloh besok Rebo saya mau ke Kalongan (saudara) ngasihken undangan “ulem” pak. Itu lho, sebelum jembatan Comal ke kiri masuk bawah jembatan KA, langsung belok kiri.🙄

  17. Tulisan yang mencerahkan Pak Mursyid… Makasih.

    Maaf baru bersilaturahmi lagi…

  18. Disekitar kampung saya sepertinya banyak yang tidak memeperdulikan sekolah, diawali oleh masalh keluarga yaitu kurang mampunya kondisi perekonomian keluarga. Kemudian ditambah faktor internal anak yang memang malas belajar😦

  19. selamat pagi Pak Guru…

  20. sudah lengkap sekali, hingga bengong mau komeng apaan ya…

    mantap saja deh. terima kasih..
    salam.😆

  21. Biar tiga kali komengnya mas, mantap

  22. Keadaan diperparah dg tayangan tv yg gak mendidik itu lho pak. Jam tayang yg bareng dg jam belajar, dan org tua yg gak membudayakan anak utk belajar di rmh, berdampak besar pd prestasi belajar anak. Ya kan, pak? Keep spirit!!!!

    • Tq, bu Harini sampun kersa mampir saha urun rembag. Demi anak2, setiap maghrib tiba TV di rmh sy trurn off and on lagi jam 21.00 kecuali malam minggu. Stasion TV bahkan yang berlabel TV Pendidikan saja nampaknya memang sudah jauh dari kategori mendidik. Baginya yang paling penting rate-nya tinggi.

  23. setuju pak ….. wah kalau semua guru seperti bapak,, pendidikan di Indonesia pasti tambah sukses pak…

  24. keberhasilan seseorang tergantung dari orang itu sendiri….,

  25. guru dalam perspektif pembelajaran itu hanya sbg fasilitator, mediator, dan motivator. selebihnya, keberhasilan belajar siswa akan sangat ditentukan oleh siswa ybs dan lingkungan yang mendukungnya. sungguh tdk masuk akal kalau guru selalu dijadikan kambing hitam terhadap kegagalan siswa.

    • Paradigma pembelajaran terkini memang seperti yg p Sawali katakan.

      • @ Sawali
        Kalau siswanya sudah tidak mau didukung, bagaimana sebaiknya sikap seorang guru.
        Perilaku siswa memang tidak selamanya seperti yang kita harapkan. Bila sudah demikian, masihkah guru berpegangan atau sebaliknya angkat tangan?

        • Meski pertanyaan ditujukan pada p Sawali, sy boleh nanggapi, ya?
          Menurut saya nih, jika keadaannya demikian, guru tetap tdk boleh menyerah to, pak. Faktor paling dominan menurut saya lagi, memang motivasi. Nah munculnya motivasi selain dari kesadaran anak sendiri juga dapat dari yang lain, misal guru. Guru harus senantiasa berusaha mendorong agar siswa memiliki motivasi kuat untuk belajar. Caranya terserah. Yang pasti seperti apapun keadaan siswa, guru tidak seyogyanya putus asa.

  26. Pendidikan memang masalah yang komplek. Cuma banyak yang pengen mendapatkan hasil yang instan. Salah satu contohnya ortu yang melepas begitu saja anaknya ke sekolah/pesantren dengan harapan anaknya bisa jadi anak yang cerdas. Tapi ortu sendiri lepas tangan/cuek2 saja ketika anak di luar sekolah/pesantren.

    Itu mungkin masuk ke fakstor eksternal, yaitu lingkungan keluarga. Kalau kurang mendukung, ya gak gitu maksimal.

  27. kunjungan malam hari… ingin minta follownya dari sobat blogger yang sudah top ini… terimakasih atas partisipasinya.. biar gak paki L silahkan Klik di sini aja program 1001 komentar, berprtisipasilah

  28. Semua faktor memang harus mendukung untuk mendapatkan hasil pendidikan yang mumpuni

  29. komentku koq hilang… kena spam ya..

  30. benar Pak Mursyid, guru lebih sering disalahkan atas kegagalan pendidikan, seakan guru hanya punya kewajiban dan tidak perlu diperhatikan haknya.

    seperti sertifikasi itu kan suatu bentuk “penyalahan” terhadap guru sebenarnya, untuk menjastifikasi bahwa guru tidak mempunyai kualifikasi yang cukup untuk disebut sebagai guru sehingga perlu diadakan sertifikasi tersebut.

    meskipun sudah mengajar sampai muridnya sudah ada yang menjadi menteri dan pakar berbagai bidang, masih saja mereka dipertanyakan kualifikasinya melalui sertifikasi tersebut.

  31. lho komennya nyasar kemana?

  32. tanpa minat emank semuanya gag bakal berjalan😉

  33. nyalahkan sih gampang Pak. Coba aja lihat pertandingan sepak bola di TV kemarin. Karena Indonesia gak bisa masukkan ke gol lawan, ee ada tuh penonton yang saking jengkelnya sama pemain kita, trus turun ke lapangan mau masukkan bola. Lho… kok gak masuk, padahal penjaga gawangnya sambil senyum-senyum. La itu tuh kaya itu yang suka komentar nyalahin guru. Coba suruh ngajar siswanya Pak Mursyid… paling sama tuh dengan penonton tadi.
    Aku jadi ingat tuh, cerita singa yang sombong. Saat ketemu macam tanya sama macan siapa yang paling kuat Can ?Si macan menjawab tentu saja tuanku. Lalu ketemu gorila tanya yang sama dan gorila menjawb, ya tuanku tentu saja. Singa tambah besar kepalanya. Lalu ketemu gajah dan tanya. Hai Gajah siapa yang paling kuat di sini ? Gajah tidak menjawab, tapi dengan belalainya langsung membanting singa dan diinjak-injaknya singa sampai babak belur. Eeeee dasar singa sombong, sudah mau mati masih juga ngomong. Kalo gak bisa jawab jangan nginjak-injak dong.
    hehehe…makanya kalo jadi pejabat jangan menfonis dulu sama guru gara-gara siswanya gagal UN, lihat dong gimana prosesnya, baru menilai?

  34. Ada kecenderungan orang tua itu segalanya menyerahkan kepada guru. Seolah-olah ia terlepas dari tanggung jawab. Seharusnya orang tua pun menjadi motivator dan supervisor bagi anaknya.
    Lingkunag kita juga kurang menunjang. Masyarakat kita bukan masyarakat belajar ( learning society ) . Kita tidak biasa keluar rumah membawa buku misalnya. Berbeda dengan orang sono, di mana ada kesempatan mereka baca buku, bukan sms-an. Jadi anak-anak kita juga malas membaca dan belajar.
    Terima kasih .
    Salam.

  35. Jadi kelanjutannya gimana pak? sekarang kan trennya bahwa mereka yang gagal UN sudah dinyatakan tidak berhasil dalam rangkaian belajar siswa. Mind set semacam ini harus dihilangkan karena UN bukan segalanya, masih banyak faktor yaitu guru, lingkungna sekolah, orang tua, teman interaksi dll.

    • Itulah mengapa selama ini UN dibilang kontroversial. Apalagi yang di-UN-kan hanya 4 mata pelajaran. Ada satu mata pelajaran saja yang nilainya kurang dari 4,0 meski yang lain 9 semua, ya tidak lulus.
      Memang benar bahwa untuk dapat menghasilkan pendidikan yang berkwalitas sinergi antara sekolah, masyarakat, orang tua, dan siswa sendiri sangat signifikan adanya.

      • Ya itulah Pak orang Indonesia saat ini. Yang sudah bagus dan mulai mapan kagak diteruskan, malah dirombak. Diangap tidak sesuai reformasi, ee. malah tambah bobrok. Inilah akibat semua orang dah pintar ngomong. Padahal kalo didengerin sama tuh sama omongan orang pasar, bedanya cuma pakai jas, pakai mobil, pakai sepatu, punya kantor, and punya sopiiir. Gantian dipercaya bukannya tambah baik, malah tambah rusak. sampai kapan ya ….kayak gini.

  36. Ya, yang penting apakah prosesnya dilalui dengan baik pak. Soalnya anak saya yang lulus tahun lalu, gurunya juga jarang ngajar. Ada jam tambahan tentu saja, tetapi pada pagi harinya dipakai untuk mencatat soal dan jam tambahan dipakai untuk membahas. Wah ini kan kurang efektif. kalau menurut saya ngajar orang bodoh itu lebih gampang lo pak daripada ngajar orang yang tak punya motivasi. Jadi jangan tersinggung dulu kalo beberapa orang berpendapat tentang gurunya. Makanya yang penting bagaimana proses untuk mempersiapkan siswa menuju UN, kalo sudah dilalui dengan baik, dan tetap gagal. maka tentu saja bukan kegagalan gurunya dong. tapi kalo kejadiannya seperti yang di atas, saya ragu nih kalo gak nyalahkan gurunya. maaf ya pak saya gak bermaksud menentang pendapat bapak. salam kenal dari saya orang tua siswa yang pernah kecewa dengan sikap guru kayak di atas.

    • Orangtua yang cerdas. Saya suka dengan sikap dan tanggungjawab orang tua seperti anda Pak Yanto. Guru bukanlah malaikat, Guru tetaplah manusia biasa. Jadi, masih terbuka peluang untuk berbuat salah dan khilaf.
      Guru dan Orangtua memang sebaiknya saling berkoordinasi dan saling support untuk bergandengan tangan membebaskan anak dari belenggu kebodohan. Bukan saling mencaci bahkan saling melaporkan ke polisi.

      • Terima kasih Pak Umar, saya hanya sebagian kecil dari orang tua yang ingin pendidikan ini tidak untuk main-main, sekedar rutinitas mencari prestise, dengan cara apapun yang penting UN berhasil, jangan,….jangan bodohi siswa dengan pertolongan semu. Gagal adalah pelajaran bagi siswa yang tidak mau berusaha.
        Oleh karena itu inovasi yang dihasilkan Pak Mursyid ini sungguh perlu mendapat perhatian tersendiri dari yang punya kebijakan. Yang ada sekarang kan para empunya kebijakan maunya nebeng keternaran saja tapi tak mau ngasih stimulus dulu. Coba saja kalo ada orang yang masuk AFI, KDI, Mamamia, end mama-mama yang lain trus sampai ke final. Semua pejabat berebut mendukung yang intinya sebenarnya cuma ikut promosi di TV demi kepentingan pribadi atau golongan. Nah begitu ada guru yang punya prestasi walo tingkat nasional, gantian berlomba ngumpet, pura-pura gak dengar, gak tahu, gak ada anggaran, end gak-gak yang lain, yang intinya dia gak ikut terkenal deh gak disiarkan di TV kaya Mama-mama. Jadi tidak heran kalo guru kita juga kurang termotivasi untuk berinovasi. Saya yakin Bapak-bapak/ibu guru tidak butuh hadiah, motivasi dengan dorongan moral saja itu sudah menambah semangat para bapak/ibu guru. Semoga Pak Mursyid tetap berkarya dan tidak perlu ikut mamamia hanya karena butuh dukungan. Semoga karya-karya panjenengan dapat dimanfaatkan oleh Bapak/ibu guru kita di Indonesia. Amien

    • Bagus sekali kalau tulisan saya jadi bahan diskusi.
      Saudara Yanto, saya sangat menghargai komentar panjenengan. Kalau saja panjenengan mengadu pada pihak sekolah saat itu, tentu sekolah tidak akan tutup mata dan berpangku tangan, bahkan kami guru Indonesia akan sangat berterima kasih dan bangga memiliki masyarakat yang kritis terhadap dunia pendidikan seperti njenengan. Pendidikan memang tidak tertutup kemungkinan ternodai oleh ulah oknum guru. Oknum guru yang mengajar putra panjenengan sama sekali bukan representasi guru secara universal.
      Semoga akan lebih banyak guru membaca komen panjenengan ini sebagai cambuk untuk senantiasa berbenah diri dari segala kekurangan.

  37. Btw, belum ada yang hangat nih Pak Mursyid? ditunggu lho!
    Oiya, kalau tidak keberatan, numpang dilink juga donk.
    Untuk rekan2 sesama guru, salam kenal dan salam sukses kreatif!

  38. selamat siank berkunjung lagi disni

    absen makasih

  39. betul,, betul,, betul..!!! sy sbg murid juga sering mendengar itu. salam kenal saja pak…

  40. ngopi membuat otak encer untuk berpikir,heheheh

  41. keberhasilan itu bisa di capai dengan bersama-sama..,

  42. motifasi anak belajar bukan merupakan pilihan hidup mereka, tapi memreka memilih karena kepasrahan harus menjalani pilihan itu. yang menurut mereka sendiri itu sama sekali membebani hidup mereka. dan kita di paksa untuk membuat anak senaang dengan pilihannya, keberhasilannya ya kalau anak senang belajar. masalah anak berhasil dalam UN itu merupakan efek samping dari proses menyenangkan anak. ma’af pak komentarnya ngawur…..!!!!!

    • Komentar p Win tidak ngawur. Sepintas memang seperti itulah realitanya. Salah satu tugas berat dan utama kita diantaranya adalah membimbing guna menyadarkan siswa akan kebutuhan mereka yang sesungguhnya.

  43. Penentu Keberhasilan Belajar Siswa Bukan Hanya Guru

    setujuuuu….🙂 . salam kenal pak…

  44. saya juga guru dan juga punya problem yang sama. tapi, biar bagaimana kita juga harus tetap semangat. toh, bagi anak, tujuan terpenting belajar bukan cuma untuk ujian.

  45. Maaf pak… kalau dalam pidato sy sering menyampaikan bhw dari berbagai faktor penentu keberhasilan pembelajaran ternyata guru masih menjadi kunci keberhasilan… karena dg kompetensinya guru dituntut mampu mendisain proses pmbelajaran sesuai kondisi msg2 sat pend nya, dimana kadang sarprasnya yg tdk mendukung, siswa yg krg termotivasi, siswa dr lingk ortu yg krg mendukung, dll…
    Karena jg kebetulan yg diajak bicara para guru…kali..
    Kalau pas pidatonya di depan komita sekolah beda lagi… betapa pentingnya dukungan mereka thd sekolah…
    Salah kah ……..

    • Setidaknya, berkenaan dengan kondisi pendidikan di wilayah kerja kita, kita memiliki obsesi dan komitmen sama untuk bersatu saling bahu-membahu guna mengatasi segala permasalahan yang ada sesuai kewenangan kita masing-masing. Untuk ini kita (para guru) sangat membutuhkan reinforcement, bukan judgement. Judgement tentang guru yang cenderung negative berdasar dalil2 statistik itu tidak perlu terlalu sering dibahas secara vulgar.
      He he he kok jadi terlalu serius gini, ya.
      Yg pasti sy tidak bermaksud nembak seseorang, lho. Justru kita semua sangat apresiatif ada pejabat spt Ibu yang sudi dan tidak jaga gengsi untuk bergaul dengan konstituen. Ini terobosan baru yang langka dan sy yakin dampaknya akan lebih banyak positifnya.

  46. Ok., I am always open…….
    I agree with you….Reinforcement not Judgement…
    I’ll try to learn how to reinforce, didn’t I ever do it…..he he I think I did some times but in nowadays policies done by central government n job I have now, there are so many new rules n policy to make the quality of education better through redesigning n repositioning teachers to be professional teachers felt very hard n so difficult …. I hope they don’t think like it……….. sorry ….it is still kind of ‘judgement’?

  47. […] Beberapa teks pada post ini disadur dari tulisan saudara mursyid […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: