Pendidikan Gratis Ternyata Tidak Gratis Tis Ti … s!

sswPendidikan merupakan salah satu ujung tombak kemajuan suatu bangsa. Maka, isu yang satu ini pun menjadi salah satu isu menarik yang diangkat dalam orasi dan diskusi kampanye politik pada ajang pesta demokrasi di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Guna memperoleh simpati masyarakat, saat itu, para politikus pun dengan berbagai jurus menebar janji-janji manis yang salah satu diantaranya mengenai pendidikan gratis.

Ketika awal mendengar dan melihat iklan pendidikan gratis di TV, saya sebagai praktisi pendidikan mengelus dada sembari berkata dalam hati, “Pendidikan gratis saat ini tidak realistis dan kurang edukatif.” Saya katakan tidak realistis sebab ternyata dana BOS dan dana lain yang pemerintah kucurkan hingga saat ini ternyata tidak mencukupi untuk menyelenggarakan pendidikan yang memadai. Saya katakan kurang edukatif sebab sesungguhnya pendidikan bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh komponen bangsa termasuk masyarakat sendiri.

Kini iklan pendidikan gratis di TV telah di modifikasi, mungkin lantaran sudah ketahuan bahwa iklan terdahulu lebih berbau politis. Pendidikan Gratis yang dimaksud ternyata tidak gratis tis tis. Sekolah dipersilahkan menghimpun dana sukarela dari masyarakat untuk mencukupi kebutuhannya sepanjang memenuhi asas berkeadilan dengan cara subsidi silang (si miskin tetap harus gratis, si kaya harus menyumbang lebih) dan ini pun harus diputuskan bersama orang tua/wali murid melalui rapat pleno komite sekolah. Betapapun juga, iklan pendidikan gratis terdahulu telah sedemikian terpatri di pikiran masyarakat. Maka ketika sekolah mengundang orang tua/wali murid untuk merembug masalah kekurangan biaya operasional sekolah, ada beberapa dari mereka yang komentar, “Katanya gratis, kok masih harus bayar!” Untuk ini maka pengelolaan keuangan sekolah dituntut harus terbuka dan transparan (jangan ada kesan disembuyikan), biarkan masyarakat tahu karena memang mereka berhak tahu. Kalau masyarakat harus tahu, apalagi warga di sekolah (karyawan dan guru). Seluruh warga sekolah juga harus tahu karena ini adalah salah satu yang diamanatkan oleh menejemen berbasis sekolah (MBS).

Semoga keleluasaan yang diberikan pemerintah pada sekolah untuk menggalang tambahan dana operasional dari masyarakat tidak malah menjadikan lebih leluasanya oknum tertentu di sekolah untuk memperjuangkan kemaslahatan diri pribadi.

Buat para politikus; Berhentilah saling bersiteru. Kesampingkan sentimen   golongan dan pribadi. Lihat betapa masih terlalu banyak anak bangsa  cerdas  aset negeri calon penerus generasi kini tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi karena keterbatasan kemampuan ekonomi. Mereka tidak butuh janji, melainkan solusi.

43 Tanggapan

  1. Wah …. Pertamaxxxxxx ……………. sebelum boboxxxxxxxxx……asyiiiixxxxxx……… heeeeeee……..

  2. Iklannya …. berbau infotainment ……. “manis diminum tapi langsung diabets” wakakakakak………klise ….. yaa, sesaat (dibaca sesat)

  3. satu lagi kang….. nggak substansial …… sial heeeee…….penuh kepentingan …. pamit yaaaaaa…… undur diri besok ketemu lagi syukron katsir …..tenkiyu….matur sembah nuwun………

  4. Met bobok, bang Alwi.

  5. Salam kenal……
    Saya setuju bahwa sekolah jangan sampai kembang kempis sementara orang tua yang kaya pura2 tidak tahu dengan tameng “gratis”.

  6. Betul banget tuh, iklan itu malah menyesatkan persepsi masyarakat. Masyarakat awam menilai bahwa pendidikan benar2 gratis, sehingga ketika pihak sekolah menghimpun dana untuk kebutuhan sekolah, jadinya msyarakat mencibir…namun ada yg parah yaitu masyarakat yg benar-benar tidak mampu malah memilih berhenti sekolah karena tidak ada biaya untuk memenuhi permintaan sekolah tersebut. Kasus ini terjadi di sekolah swasta memang. tapi tetap saja sangat memprihatinkan jadinya…

  7. Saya sangat menyayangkan iklan-iklan layanan masyarakat dari pemerintah yang niru-niru iklan produk konsumsi. Termasuk iklan2 tentang pendidikan gratis.

  8. Sing lucu malah logate Pak…
    Iklan Pendidikan Indonesia kok logate malaysia

  9. kenapa nggak diiklanin “sekolah-diskon” aja ya pak? hehe😆

  10. Masalah pendidikan di Indonesia memang tidak kunjung selesai. Ganti menteri ganti kebijakan sudah jadi tradisi. Komersialisasi pendidikan sudah pula menjangkiti.

    Semoga semua yang berkaitan dengan dunia pendidikan menemukan solusi terbaik, agar pendidikan untuk generasi mendatang bisa ditingkatkan.
    .

  11. Ya..Namanya Iklan cuma pemikat…
    Sopo yang tertipu…?
    Ya wong cilik…

  12. Assalamu’alaikum,
    Iklan pendidikan gratis itu cuma kampanye pilpres saja, tapi dibayar negara. Sementara biaya untuk dekolah dari pemerintah sangat minim , tapi akibat iklan itu masyarakat tidak mau memberikan dana untuk kepentingan pendidikan anak-anaknya. Pada hal masyarakat pun berkewajiban untuk memajukan pendidikan. Kalau keadaan seperti ini terus, jangan harap pendidikan kita bisa maju.
    Terima kasih

    Salam

  13. Kan udah ada iklan nya, ada yang namanya sumbangan ada yang namanya pungutan ?!

  14. setuju pak…
    yang disebut gratis memang pada akhirnya cuma akal2an…

    yang disebut gratis dalam arti memang sungguh2 tidak membayar apapun harusnya hanya diberlakukan bagi anak2 dari orang tua yang tidak mampu secara ekonomi. tapi bagi anak2 dari keluarga mampu yang harus tetap membayar. sehingga dengan demikian terjadi subsidi silang.

    ini yang disebut dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat.

  15. benar, sekolah gratis itu seperti angan-angan. buku-buku juga tetap dibebankan walau ada yg dipinjamkan cuma hanya 2-3 buah lainnya tetap harus beli. apalagi sekarang tidak bisa diwariskan, tiap tahun harus beli ….

  16. kata gratis memang menyesatkan,
    menyesatkan orangtua, menyesatkan sekolah

  17. Sekarang sekolah itu sudah jadi bisnis, mana bisa digratiskan.

    Konon, pemegang kendali dalam feodalisme modern adalah kelompok pedagang/pengusaha yang menguasai ekonomi lebih dari setengah kekayaan yang ada. Kelompok tersebut mengakumulasikan kekayaan kurang lebih 80% kekayaan Indonesia, padahal jumlah mereka tidak lebih dari 20 % dari jumlah penduduk. Kedua kelompok “penindas” tersebut semakin memperkokoh kekuasaannya sebab secara praktik hanya mereka yang mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi yang sangat mahal dan terpola dalam sistem kekuasaan itu. Generasi itulah yang kemudian menjadi pewaris “tahta penindasan”. Kalau ada dari kelompok rakyat kecil yang mampu mengecap pendidikan tinggi, ia akan berubah menjadi pemegang kendali feodalisme baru, baik dalam rangka balas dendam maupun dalam “penindasan” terhadap sesama kaum “tertindas”.

    semoga pendidikan di sini bisa menjadi lebih baik sehingga menghasilkan manusia yang cerdas dan bermoral yang baik serta bertatakrama yang juga baik.

  18. Teman2 saya banyak yang menyekolahkan anak2nya di sekolah swasta yang spp bulanannya kadang ngalah-ngalahin spp per smester di peguruan tinggi, apalagi sekarang sedang ngetren SDIT. Syukurlah, mereka yang ‘merasa mampu’, menghindari rebutan dengan yang ‘kurang mampu’ di sekolah negri. Katanya sih walopun mahal, tapi kan mutunya bagus, fasilitas lengkap.
    Apakah ini berarti: sekolah negri =murah (hampir gratis)= mutu tidak bagus ??

  19. iklan yang pertama memang telah mencandui sebagian masyarakat, sehingga beberapa sekolah justru tak berkutik ketika harus menyusun anggaran demi kemajuan anak didiknya

  20. Assalaamu’alaikum

    Apa yang pentingnya, para guru sentiasa berusaha membantu dan memberi semangat kepada anak-anak untuk terus berjaya. Mudahan ilmu yang disampaikan mendapat keberkatan Allah swt. Salam ziarah buat Pak Guru, sahabat yang sentiasa menyayangi dunia pendidikannya. salam mesra.

  21. gratis sekian persen, bayar sekian persen. total persen persenan

  22. pak menteri bilang anggaran pendidikan ga bakalan di kurangi..mungkinitu berarti juga ga bakalan ditambahin kali yah,,,jd ya tetep segitu,,,(gimana mau maju kalo sekolah aja mahallll)

  23. menyedihan memang kalo melihat ini di Indonesia,,katanya gratis tapi beli buku nya malah kadang melebihi iuran bulanan yg spt biasanya…(sama aja bohong yah……..)

  24. Setuju Pk, tidak realistis dan edukatif. Saya lebih setuju yang kaya bayar mahal sehingga bisa membantu yang kurang mampu. namun dilematis juga, siapa yang merasa kaya dan siapa pula yang merasa kurang mampu.

    Menumbuhkan semangat berbagi dan bersyukur, kegiatan ini yang perlu kembangkan sekolah dan masyarakat.

    • @Puspita W:
      Memang dilematis, Bu. Orang2 kaya di negeri ini masih sangat kurang peduli dengan pendidikan. Bahkan di daerah saya ketika sekolah mengadakan seleksi calon penerima beasiswa untuk siswa miskin, mereka yang sebenarnya cukup mampu pun ikut ndaftar, dan anehnya mereka juga berhasil memperoleh surat keterangan tidak mampu yang ditandatangani kepala desa.

  25. susah banget pengen nerapin biaya gratis kalau sekolah, tapi gampang banget kalau naikin gaji pejabat padahal uangnya uang rakyat

  26. benar sekali, pak mursyid. kebijakan semacam ini agaknya sebatas membangun pencitraan. selebihnya, doh, malah bikin repot orang2 bawah. pendidikan gratis akan sulit diterapkan, pak, kalau pemerintah tdk memiliki komitmen serius utk menyediakan dana yang cukup utk menunjang bias aoperasional., sarpras, dan fasilitas pendidikan yang lain. pemda pun cuek bebek. dana pendamping yang dipersyaratakan, sepeser pun ndak pernah keluar.

  27. Betull Kang.. tidak semuanya gratis… maseh banyak yang harus dikeluarkan untuk biaya pendidikan di Negeri Tercinta ini… namun demi kepentingan kampanye (pilres tempohari).. dibuat seolah-olah gratis….. Yach… sudalah maseh banyak pihak-pihak non pemerintah yang tetap konsen dgn pendidikan ini…. to.
    Kunjungan Balek
    Salam Hangat

  28. Ditempat saya kerja mas pendidikan benar-benar gratis, tetapi terbatas dari TK dan SD saja. Karena lanjutannya beluma ada.
    Ketika pertama kali masuk TK atau SD, semuanya disiapkan terkecuali sepatu. Karena disubsidi langsung oleh Perusahaan.

  29. Ops…, iklan layanan masyarakat tersebut sangat menyesatkan dan menunjukan citra pejabat negeri ini.
    Dengan menggunakan logat melayu malaysia, apakah memang harus seperti itu iklan layanan masyarakat ?

  30. semoga program pendidikan gratis bener2 bisa adil dan dpt mencetak generasi yg lbh baik🙂

  31. Assalamu’alaikum,
    Pak, ada amanah dari KangBoed untuk membagi-bagikan award yang saya terima. Award ini dalam rangka menjalin silaturahmi kita agar semakin erat.
    Kalau berkenan bisa Bapak jemput di tempat saya.
    Terima kasih.
    Salam.

  32. jerbasuki mowo beyo pak dhe….

  33. entah kenapa seringkali bikin miris hati kalau soal macam ini. tak kurang rasanya kampanye dari segenap pihak kalau pendidikan ada kunci masa depan.

    bahkan, dari yang saya alami, sekolah tak transparan pada komite sekolah tentang alokasi pendanaan yg telah diterima sekolah dari pemerintah, sehingga terjadi duplikasi anggaran. (kegiatan yang sama tapi bersumber pada dana pemerintah dan komite). semoga ini tak terjadi di banyak sekolah.😦

  34. Namanya juga usaha…😀

    Tapi, saya ada miris juga. Pendidikan udah diusahakan gratis (walau boong :D), tapi saya masih sering liat anak usia sekolah malem2 gonjrang gonjreng di perapatan. Bukannya belajar. Sedih…

  35. pendidikan gratis.., ga mungkin benar2 gratis…,
    pastinya masih ada biaya lainnya..,

  36. pendidikan emang selalu jadi dilema di negeri ini. komitmen yg kurang akan bikin susah pengelolaan pendidikan scr baik.

  37. Pendidikan merupakan hal yang paling penting dalam sukses tidaknya suatu negara, ini harusnya diperhatikan oleh para wakil rakyat

  38. HADIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRRRRRRRRRR..
    Menyapa sahabatku chayank..
    MAAF..
    Baru jalan jalan dan keliling lagi.. pokoknya saya ngabsen dulu yaaaa.. masih banyak tugas keliling maklum habis istirahat tugas banyak yaaaa.. harap di persorry..

    salam sayang

  39. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

  40. Pendidikan adalah modal awal mencetak pemimpin yang arif dan bijaksana.

    Akan tetapi, proses pembentukan pemimpin tidak merata dengan adil. Banyak dari kaum marginal terpinggirkan dalam hal segalanya. Dan inilah potret kecil dari ketimpangan yang ada di Indonesia.

    Tapi yang jelas, mosok cah ndeso pengen jadi pemimpin to ? [ngawur wae ki] mPISSS Om

  41. Bahasa Gratis mah asalna ti Parpol, supaya katingali manis dina ngabandrol Pemilu. Ti Kapungkur oge sakolah mah tos semi gratis, apan wiwis teu ngango acis.
    Ah… uarang tingalikeun wae lalakon nu aya… saha nipu saha

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: