Titik Nadir Jati Diri Manusia

Entah mengapa akhir-akhir ini saya selalu teringat beberapa peristiwa paling mengerikan di sepanjang hidup saya. Peristiwa sesaat yang sempat menempatkan saya seperti tidak sedang berada di dunia materi. Peristiwa dimana saya seakan sedang berada pada posisi titik terendah sebagai manusia.

Peristiwa -1 Suatu waktu, tepatnya tahun 1993, seperti biasa setiap hari minggu saya bersama seorang teman pergi memancing ke waduk/bendungan Kedungombo (waduk buatan terbesar se Asia Tenggara saat itu, yang terletak di perbatasan 3 kabupaten – kabupaten Boyolali, Grobogan, dan Sragen). Pagi itu, meski matahari belum terbit, cuaca tampak cerah, tak sedikitpun awan terlihat menggantung di langit, dingin meski tiada semilimancingr angin. Hamparan air di waduk pun bak plastik luas terbentang. Perlahan namun pasti sampan kecil itu saya kayuh dengan sepasang dayung. Kurang lebih 1 sampai 2 km dari daratan telah saya lalui. Hingga jam 12 siang hanya satu ikan seukuran sandal jepit berhasil saya dapat. Akhirnya keputusan pulang pun kami buat. Di tengah perjalanan pulang, di tengah kerumunan air kurang lebih 1 km dari darat, tiba-tiba cuaca berubah; langit menjadi hitam berawan dan angin bertiup kencang, di kejauhan sesekali petir terdengar, air yang semula bak bentangan plastik berubah menjadi gelombang ganas yang siap menelan setiap benda yang berada di permukaan. Kedua tangan saya pun sudah mulai kesemutan kelelahan menahan sampan dari terpaan gelombang. Karena panik, sayapun meneriaki teman saya yang juga masih sedang sibuk mempertahankan sampannya sendiri, “Mas, mati awake dhewe!” Dengan nada gemetar dia pun berteriak, “Tahan …!” Saat itulah saya seperti  tidak lagi berada di dunia nyata. Tenaga telah terkuras habis. Pandangan yang tadinya gelap menjadi kabur berubah menjadi serba putih, tetapi saya masih tetap sadar dan dengan hati pasrah dengan segenap sisa tenaga menggerakkan dayung sambil komat-kamit menyebut, ”Allahu Akbar … !“, satu kali kayuh dayung satu kali sebutan hingga tanpa terasa pandangan mata saya yang kabur mendapati daratan tinggal kurang beberapa meter saja dari sampan. Saya berhasil mendarat. Seketika itu pun saya melakukan sujud syukur. Allahu Akbar! Alhamdulillah! Saya masih diberi selamat.

tabrakanbis2Peristiwa -2 Suasana serupa di atas kembali saya alami ketika saya bertugas sebagai ketua panitia Wisata Siswa tahun 2002 dengan tujuan Jakarta. Pada perjalanan berangkat, tepatnya pukul 22.00 di Pemalang, bis yang saya tumpangi bertabrakan hebat dengan bis lain. Salah satu teman guru yang duduk di kursi terdepan disamping saya dan seorang siswa terlempar keluar dari bis. Suasana yang semula hening karena sebagian siswa sedang terlelap tidur berubah menjadi riuh rendah oleh suara jeritan menyayat hati  dari sebagian siswa yang terluka menahan kesakitan. Rambut yang semula tertata rapi menjadi acak-acakan berkeramaskan darah dan serpihan kaca. Sambil sempoyongan karena kepala habis terhantam pecahan kaca depan saya berusaha untuk tidak panik. Namun mendengar rintihan kesakitan para siswa dan sang sopir yang pahanya patah tergencet stir membuat suasana semakin mencekam. Suasana kemudian berubah menjadi hening dan yang terdengar tinggal sebutan “Allahu Akbar” dan “Astaghfirullahal ‘Adzim” sebagai bentuk kepasrahan. Alhamdulillah akhirnya semuanya dapat dievakuasi dengan selamat dan tak ada satupun korban meninggal.

Dua peristiwa nyata yang secara singkat saya ceritakan di atas menggambarkan kenyataan betapa sesungguhnya manusia ketika mendapati dirinya pada posisi titik terendah (titik nadir) dari jati diri dan esensinya sebagai manusia akhirnya toh harus kembali kepada fitrahnya. Manusia ada bukan dengan sendirinya. Manusia membutuhkan tuannya/penciptanya/Allah – Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai pelindungnya, satu-satunya.

27 Tanggapan

  1. Kisah yang luar biasa dan penuh makna.
    Sepakat banget, manusia itu lemah dan butuh tuhan.
    Walau kadang manusia suka ingkar sama tuhan.

  2. syukur masih bisa mengamankan KEDUA
    Intinya; manusia dapat berencana dan berusaha namun segalanya kembali kepada kekuasaan Allah. Dan manusia tidak akan mampu berkutik apa-apa saat berhadapan dengan kekuasaan Allah.
    Maaf jika keliru

  3. Saya paling trauma tiap penataran Pak.
    Peristiwa pertama penataran di Jogja. Acara pembukaan jam 7 malam baru akan dimulai. Tiba2 ibuknya anak2 menelpon, bilang kalau anak pertama saya kecelakaan, ditabrak truk di dekat IAIN Jrakah.
    Bingung sebingung2nya, kondisi malam, sementara saya ke Jogjanya saja nunut teman. Beruntung ada tetangga yang lajo Kendal Semarang dan saya hapal jam2 segitu pasti masih di Semarang. Saya telpon tetangga saya, saya minta bantuannya kalau pulang mampir Rumah Sakit Tugu. Alhamdulillah anak saya cuma lecet2 meskipun speda motornya hancur terlindas truk. Bahkan anak saya bisa bicara dengan saya lewat HPnya tetangga saya tadi.
    Kejadian kedua saya penataran di LPMP Smg.
    Giliran anak kedua saya nelpon kalau dia tabrakan dengan murid STM yg kebut2an. Anak saya dari arah Smg pulang kuliah, anak STM nya dari arah berlawanan. Dengan suara menahan sakit, anak saya menelpon saya. Lalu saya ngabari istri saya, sambil langsung berkemas pulang duluan dr LPMP. Untuk yg kesekian kalinya saya bersyukur, anak saya tidak begitu serius lukanya dan semua sudah diurus polisi, karena anak saya ada dipihak yg benar.

    Tiap kali mengingat itu sayapun seperti ada di titik nol…
    Ketenangan sudah susah didapat, tiap saat adanya was2.
    Tiap terima telpon dari keluarga malah deg2an…

  4. untuk itulah kita sebagai makhlukNya, wajib mengingat akan kemana diri ini kembali😉

  5. subahanllah. dua peristiwa penting yang pak mursyid alami mengingatkan saya betapa kita sebagai manusia sesungguhnya benar2 sebagai makhluk yang dhaif dari berbagai sisi. semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan bagi pembaca bahwa watak adigang, adigung, adiguna itu akan hancur jika harus berhadapan dengan kuasa Tuhan. matur nuwun, pak. btw, kok sering mancing di kedungamba itu memang pak mursyid tinggal di mana? saya asli grobogan loh, pak?

    • Saya asli Suruh Kab. Semarang (pinggiran kota Sl3). Kurang lebih 25 km menuju kedungombo melalui Karanggede (Kab. Boyolali). Ibu saya juga asli Godong – Grobogan.

  6. perlu untuk direnungkan

  7. Assalamu’alaikum,
    Alhamdulillah, Bapak selamat. Kita harus meyakini, bahwa pasti ada hikmah dibalik setiap kesulitan atau musibah yang menimpa. Mungkin dengan kesulitan atau musibah yang dialami seseorang, akan menjadi penggugur dosa-dosanya. Seperti sabda Rasulullah SAW : “Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim). Karena kita tidak pernah tahu apa yg akan terjadi/menimpa kita, mari kita perbanyak melakukan amal ibadah dan kebaikan, sebagai bekal akhirat kita, jangan menunda atau mensia-siakan waktu kita, karena kita benar-benar tidak pernah tahu apa yg akan terjadi/menimpa kita, bahkan dalam hitungan menit kedepan. (Dewi Yana)

  8. Manusia tak akan Lepas Oleh naunganya ..
    Oleh karena iTu dimanapun,kapanpun sebisa mungkin kita harus tak lepas dengan Doa kepeda -Nya.
    keep Blogging Sobat!
    Artikel menarik🙂

  9. benar…. manusia mustinya slalu sadar akan ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan..

    sgala kesombongan n keangkuhan manusia
    akan sia-sia tatkala tangan Tuhan menyentil takdir kita

  10. Kisah nyata yg sangat menginspirasi kita semua bahwa apa yg ada dialam semesta ini kelak suatu saat pasti akan kembali juga kepada-Nya

  11. Alhamdulillah..Allah yang menyelamatkan kita di saat kita membutuhkan pertolongan…

  12. Hanya dengan bertawakkal, berdo’a kepada Allohlah kita akan lebih tenang pak. Kalo kita merasa sering nggak tenang, kedekatan kita kepada Alloh perlu ditambahin lagi.

  13. Allahu Akbar…
    wah rasanya saya terharu banget membaca pengalaman panjengengan..

    sampai ga tau harus komen apa…..

  14. salam
    agak merinding ,gemetar membacanya kita memang harus ingat kemana kita Akhirnya nanti ..

    minal aidin walfaidin mohon maaf lahir dan bathin

  15. salam

    kemana arah tujuan kita kecuali di ciptakan untuk kembali

  16. setiap peristiwa menyimpan hikmah dan rahasia di baliknya…
    alhamdulillah pak, masih diberi keselamatan…

    mohon maaf lahir batin, belum terlambat kan untuk diucapkan?…

    salam kenal…

  17. saya juga pernah berada dalam keadaan seperti itu.
    mungkin kita disentil sama Tuhan ya? tetapi seringkali kita ndableg

  18. Yang Maha Kuasa punya jalan misteri untuk menyadarkan hambanya, hanya kita sebagai hambanya kadang lupa akan teguran-Nya ….
    semoga cerita ini makin menambah keimanan kita, bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali berserah pada-Nya ….

    salam,
    tetap semangat ……..

  19. saya pernah mengalami hal yang sama namun di laut ketika mau menyebrang ke Pulau Seribu malam-malam. Hampir perahu kami terbalik. Saya pasrah karena kebetulan saya tidak bisa berenang. Namun alhamdulillah selamat. Disinilah perlunya rasa syukur kita dan selalu mengingat Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
    Trims Pak atas artikel yang mengingatkan. salam

  20. kisah yang mengesankan..semga kita selalu di tuntun menuju jalan dan ridhoNYA amien…

    manusia hanyalah mahluk lemah

  21. Dalam keadaan seperti itu, manusia bisa bersikap kalap, tak berdaya atau tiba-tiba muncul kekuatannya. OLeh karena itu hanya satu yang perlu dilakukan ” bersandar kepada Allah Swt ”
    Betapa banyak orang yang lari ke dukun, bunuh diri, mrtad,dsbnya.

    Insya Allah DIA yang akan membimbing kita, jika selalu bersandar dan berserah diri kepada-Nya setelah kita berupaya sekuat tenaga.

    Salam hangat dari Surabaya

  22. Assalamu alaykum… Plend gmn kabarnya sekarang?
    wah makin sibuk aja nih😀
    mg sgala urusannya dimudahkan… amin

  23. luar biasa! innalillahi…

  24. pengalaman luar biasa, yang dilalui dengan luar biasa pula … sungguh memberikan suatu kesadaran tentang pelindung yang sebenar-benar pelindung, yang Maha Kuasa atas segalanya.

  25. Ternyata semua yang kita rasakan sebagai “milik” hanya “titipan”. Sewaktu-waktu akan diminta pemiliknNya. Subhanallah.

    Selamat pagi Bapak. Semoga selalu bahagia.

  26. luar biasa pak,,,,,sungguh menakjubkan.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: