Administrasi Guru: Tulisan Tangan Tidak Selalu Identik Dengan Autentik, Copy-Paste Bukan Hal Tabu

menulisPekerjaan administrasi dalam dunia managemen dalam sektor apapun selalu identik dengan tulis-menulis dan ketik-mengetik.  Namun sungguh ironis jika di era kekinian teknologi seperti sekarang ini ada saja orang yang masih mempertahankan paradigma lama bahwa administrasi yang ditulis dengan tulisan tanganlah yang dianggap sebagai administrasi yang baik, autentik, dan orisinil. Silahkan perhatikan dengan seksama jika di sekitar anda terdapat orang seperti yang penulis sebut di atas. Hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut ternyata memiliki kompetensi IT yang sangat minim. Dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa untuk menuangkan buah pikirannya, para penulis kini lebih suka langsung menyibukkan jari-jemarinya dengan perangkat digital yang disebut komputer.

Guru Juga Seorang Administrator – Dalam sektor pendidikan, guru disamping mengajar dan mendidik siswa  juga dituntut menyelesaikan pekerjaan administrasi yang tidak bisa dibilang sedikit (mulai dari membuat program tahunan, program semester, mengembangkan silabus, memetakan KD, menyusun RPP, menganalisa nilai sampai dengan membuat program  perbaikan dan pengayaan, dan masih banyak lagi lainnya). mengetikUntuk dapat menyelesaikan seluruh pekerjaan tersebut dengan efisien, tidak ada pilihan lain selain dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi, komputer. Maka tidak bisa ditawar lagi bahwa guru kini harus menguasai IT.

Fenomena Copy-Paste – Copy-Paste, salah satu fasilitas komputer, memang  sudah semestinya dimanfaatkan guru dalam menyelesaikan pekerjaan administrasinya. Copy-Paste sama sekali bukan hal tabu, walau kadang yang dilakukan oleh sebagian guru memang terkesan membabi buta, alias tanpa modifikasi sama sekali dan asal-asalan sehingga hal ini sering menjadikan para pejabat atasan geram. Namun, bagaimanapun juga, fenomena ini jangan sampai melahirkan kesan bahwa administrasi yang dikerjakan dengan komputer dicap tidak baik sehingga pejabat atasan lebih menyukai dan menghargai administrasi yang dikerjakan dengan tulisan tangan (yang berarti sebuah kemunduran). Ya, memang copy-paste pun harus dilakukan dengan kreatif dan cerdas.

8 Tanggapan

  1. Jaman dulu malah ada larangan satpel diketik komputer.
    Kudu ditulis tangan.
    Tapi guru ora kurang akal, karena dalam aturannya nggak menyebut tulisan tangan siapa…

    Kongkonan murid wae….😀

  2. Setuju dengan tulisan ini, Pak Mur….

  3. @marsudiyanto:
    Iku sing diarani guru cerdas dan kreatif, dhe.
    He he he …!

  4. Peraturan terkadang emang aneh-aneh. Soalnya orang2 yang jadi mbuat kebijakan tentang guru belum pernah atau udah lama gak jadi guru.
    Sekedar info; di daerah saya ada seorang asesor akreditasi sekolah yang terang2 ngomomg bahwa ia akan memberi nilai lebih pada silabus dan rp yang ditulis tangan. Pikirnya saya, gimana guru gak gaptek terus kalau mainnya gini?
    Pola pikirnya; kalau bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah

  5. copy paste dengan modifikasi yang cerdas rasanya baik juga pak

  6. pekerjaan memeras otak lebih capek dari pada kerja fisik, menurut saya sich🙂
    salam

  7. Bisa copy paste berarti sudah lebih baik asalkan dikerjakan sendiri, sementara masih banyak guru yang tidak mengenal istilah copy paste.

  8. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: