Memberdayakan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Pendidikan di Sekolah

Peran serta masyarakat terhadap sekolah sejauh ini memang masih sebatas pada pengumpulan dana untuk sekolah yang ternyata pada daerah tertentu juga masih banyak dijumpai masalah. Masalah-masalah yang muncul lebih disebabkan karena pemikiran masyarakat yang sebagian besar masih terlalu awam memahami slogan pendidikan gratis. Pendidikan gratis sampai dengan jenjang SMP ini dipahami oleh masyarakat bahwa untuk menyekolahkan anak mereka kini tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali. Penulis sendiri heran terhadap slogan pendidikan gratis yang menurut penulis lebih bersifat politis ini, karena ternyata slogan ini telah mengaburkan salah satu prinsip MBS yang sedang kita implementasikan. Kalau saja dana BOS dan dana lain yang pemerintah kucurkan untuk sekolah telah benar-benar mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan sekolah guna menyelenggarakan pendidikan yang ideal!!!???

Kita jangan saja terlarut dan terlena dengan fenomena di atas, karena memberdayakan peran serta masyarakat dalam pengelolaan pendidikan di sekolah bukan hanya sebatas pada pengumpulan dana. Mari kita tengok bagaimana masyarakat Jepang ikut berperan dalam pengelolaan pendidikan. Konon, di Jepang pun tidak jauh berbeda dengan di Indonesia; hanya, selain Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan yang memang sudah menjalankan fungsinya dengan baik, di bentuk juga apa yang mereka sebut Perhimpunan Pendukung Sekolah yang menurut penulis juga sangat applicable untuk kita adopsi. Khusus mengenai hal ini penulis rekomendasikan untuk membaca  Sistem Pendidikan di Jepang.

Sebenarnya, mempersilahkan komite dan masyarakat/orang tua siswa untuk ikut langsung berperan dalam proses pembelajaran di sekolah sangatlah memungkinkan kita lakukan. Misal, dalam pembelajaran IPS Ekonomi kita undang masyarakat/orang tua siswa yang pekerjaannya berdagang untuk berbagi mengenai pengalaman berdagangnya, dalam pembelajaran Seni Budaya (seni rupa) kita undang juga masyarakat/orang tua siswa yang pekerjaannya membuat motif batik untuk ikut memberi contoh membatik yang benar, dan sebagainya. Jika hal ini dapat dengan mudah kita terapkan mengapa tidak kita coba?

2 Tanggapan

  1. pendidikan memang sejatinya tidak bisa melepaskan peran dari masyarakat. Karena sekolah berada di tengah-tengah masyarakat bukan kelompok tersendiri

  2. Program pendidikan gratis bukan berarti ga keluarkan biaya…

    Jadilah putra bangsa yg maju dan mandiri.. jangan biarkan waktumu hilang sia2 ditelan masa.. jadikan hari2mu banyak membaca ilmu pengetahuan.. Indonesia kedepan membutuhkan bangsa pintar, cerdas, tangkas dan bijak. Salam.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: