Membangun Suasana Kerja Kondusif di Sekolah dengan Mengembangkan Pola Berpikir Positif

Tidak perlu dipungkiri bahwa atmosfer di lingkungan sekolah (tempat kita bekerja mengabdi kepada negeri untuk mencerdaskan anak bangsa) kadang dipanaskan oleh ketidakserasian interaksi antar sesama (kepala sekolah – guru – karyawan). Perbedaan sudut pandang terhadap sesuatu bisa jadi malah akan lebih memperkaya dan dapat lebih mematangkan kedewasaan cara berpikir seseorang. Akan tetapi ketika selalu ingin berbeda, menganggap diri sendiri paling benar, mudah tersinggung, mudah naik darah, suka tidak terbuka, dan jika menilai orang lain lebih suka dari sisi negatif menjadi karakter paling dominan pada satu orang saja di sekitar kita, tentu hal ini sangat rentan terhadap terciptanya konflik. Suasana konflik kapanpun dan dimanapun hanya akan menjadikan yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak, terkungkung dalam ketidaknyamanan. Suasana kerja tidak nyaman mana mungkin dapat membuahkan hasil memuaskan.

Mencermati hal tersebut di atas, membudayakan positive thinking antar sesama rekan kerja merupakan salah satu solusi. Remez Sasson mengatakan,

Positive thinking is a mental attitude that sees the bright side of life. Effective positive thinking that brings results is much more than just repeating a few positive words, or telling yourself that everything is going to be all right. It has to be your predominant mental attitude. Real and effective positive thinking requires that you focus on positive thoughts and positive emotions, and also take positive action..

Berpikir positive adalah sikap mental yang melihat sisi terang kehidupan. Berpikir positif yang efektif yang membawa hasil  bukan sekedar menirukan kata-kata positif  atau berkata pada diri sendiri bahwa segala sesuatu akan baik, melainkan harus menjadi sikap mental yang kuat. Berpikir positif yang efektif dan nyata membutuhkan bahwa kita fokus pada pemikiran, emosi, dan aksi positif.

People with a positive frame of mind think about possibilities, growth, expansion and success. They expect happiness, health, love and good relationships. They think in terms of ‘I can’, ‘I am able’ and ‘I will succeed’”.

Orang yang berpikir positif bepikir tentang kemungkinan, pertumbuhan/perkembangan ke arah lebih baik, dan kesuksesan. Mereka mengharapkan kebahagiaan, kesehatan, kasih sayang, dan hubungan yang baik antar sesama. Yang terdapat dalam pikiran mereka ‘Saya bisa/dapat’, ‘Saya mampu’, dan ‘Saya akan berhasil’.

Sungguh alangkah nikmatnya hidup dalam komunitas di mana di dalamnya penuh raut wajah cerah, riang, optimistis, saling apresiasi, saling memahami, saling percaya, saling memuji, saling toleransi dan bukan saling iri serta benci. Jika suasana kerja di sekolah bisa seperti ini, tentulah keberhasilan yang akan kita songsong di kemudian hari. Masyarakat yang telah dan akan mempercayakan putra-putrinya pada sekolah kita pun tidak ragu lagi.

6 Tanggapan

  1. wah, tulisan yang mencerahkan, pak mursyiid. saya sepakat banget. situasi persaingan dan kecemburuan sosial di sebuah institusi pendidikan acapkali menjadi pemicu komunikasi disharmonis. berpikir postif, hmm … andai saja setiap insan kependidikan memiliki mind=set ini, insyaallah dunia persekolahan kita akan makin kondusif. salam kreatif!

  2. bener sekali, pak.

  3. Ya..! dan saya juga yakin “Naluri dasar”nya semua manusia adalah baik, tapi ya itu… karena hidup ini adalah persaingan (menurut Darwin) maka kadang-kadang ada saja orang yang ingin menang dalam persaingan dengan segala cara, bahkan dengan cara-cara insting hewani, dan terjadilah teman tega makan teman hehehe…
    Didalam kelompok kerja (di Sekolah misalnya) akan selalu ada orang yang pola pikirnya “nganeh-nganehi” apalagi jika kelompok kita dalam jumlah besar..! kalau jaman saya dulu kelompok guru itu selalu dibagi dua, yang pertama kelompok reformis yaitu kelompok orang yang pinginnya selalu ada pembaharuan/perubahan dan yang kedua adalah kelompok status quo atau kelompok “Demang” yaitu orang-orang yang sukanya bilang yes pak..! bagus pak..! saya setuju pak..! kelompok ini biasanya di isi orang-orang yang senengnya cari muka pada pimpinan…! dan menjatuhkan teman yang lain
    Rasanya sulit untuk menyatukan pola pikir dari sekian banyak orang agar tercipta suasana yang begitu ideal (harmonis), paling-paling pimpinan itu bisanya ya mengurangi konflik lah..! agar mendapatkan suasana yang yaa… lumayan harmonis, itupun biasanya dapat dilakukan oleh kepala yang baik dan punya cukup pengalaman.. tapi kalau masih baru dan masih muda biasanya… berat..! istilah saya “Bau gurunya masih sangat menyengat..!!”

  4. Sesama orang bangka dilarang gontok2an. He he.
    Pa kabar pak mursyid? Sy lagi merenungi langkah, jadi tulisanne jarang muncul.
    Bgm kabare, pak?

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: