Kepala Sekolah dalam Implementasi Managemen Berbasis Sekolah (MBS)

Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality managenment) atau sering disebut manejemen mutu berbasis (MBS), yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih memberi  keleluasaan pada sekolah untuk dapat mengembangkan suatu visi pendidikan yang sesuai dengan keadaan setempat dan melaksanakan visi tersebut secara mandiri, tentu bukan hal asing bagi para praktisi dan pengelola pendidikan formal. Untuk dapat dengan baik mengimplementasikan MBS tersebut, pemberdayaan semua komponen yang bersinggungan dengan pengelolaan sekolah mulai dari kepala sekolah, guru serta komite sekolah merupakan sesuatu yang sangat krusial.

Dengan sama sekali bukan bermaksud untuk menggurui, melainkan sebagai salah satu wujud peduli, penulis akan mengurai secara bertahap mulai dari peran Kepala Sekolah, Guru, dan Komite dalam implementasi MBS ini.

Kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru dan karyawan sekolah. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan, sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu sekolah sangat ditentukan oleh kwalitas kepala sekolah terutama dalam  kemampuannya memberdayakan guru dan karyawan ke arah suasana kerja yang kondusif ( positif, menggairahkan, dan produktif). Guna mendukung hal ini, kepala sekolah dituntut:

  • jujur
  • idealis
  • cerdas
  • pemberani
  • terbuka
  • aspiratif
  • komunikatif
  • kooperatif
  • kreatif
  • cekatan/lincah
  • suka berfikir positif
  • penuh tanggung jawab
  • dll yang baik (mengingat harus dapat diteladani)

Pidarta (1997) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki peran dan tanggungjawab sebagai manajer, pemimpin, supervisor, dan administrator pendidikan.

Kepala Sekolah Sebagai Manager

  • mengadakan prediksi masa depan sekolah, misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat
  • melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah
  • menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut
  • menyusun perencanaan, baik perencanaan strategis maupun perencanaan operasional
  • menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan
  • melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya

Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin

Dalam pelaksanaannya, keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut:

  • Kepribadian yang kuat; kepala sekolah harus mengembangkan pribadi agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial.
  • Memahami tujuan pendidikan dengan baik; pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya.
  • Pengetahuan yang luas; kepala sekolah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait.
  • Keterampilan professional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah, yaitu: (a) keterampilan teknis, misalnya: teknis menyusun jadwal pelajaran, memimpin rapat. (b) keterampilan hubungan kemanusiaan, misalnya : bekerjasama dengan orang lain, memotivasi, guru dan staf (c) Keterampilan konseptual, misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah, memperkirakan masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya.

Wahjosumidjo berpendapatbahwa kepala sekolah harus:

  • menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras terhadap guru, staf dan para siswa;
  • harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap para guru, staf dan siswa, dengan cara meyakinkan dan membujuk. Meyakinkan (persuade) dilakukan dengan berusaha agar para guru, staf dan siswa percaya bahwa apa yang dilakukan adalah benar. Sedangkan membujuk (induce) adalah berusaha meyakinkan para guru, staf dan siswa bahwa apa yang dilakukan adalah benar.

Mulyasa juga berpendapat bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang:

  • mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif,
  • dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan,
  • mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan,
  • berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah,
  • bekerja dengan tim manajemen,
  • berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Kepala Sekolah Sebagai Administrator

Sebagai administrator kepala sekolah bertugas:

  • melakukan perencanaan
  • pengorganisasian
  • pengarahan
  • pengkoordinasian
  • pengawasan terhadap bidang-bidang seperti kurikulum, kesiswaan, kantor, kepegawaian, perlengkapan, keuangan, dan perpustakaan.

Oleh karena itu kepala sekolah harus menguasai:

  • pengelolaan pengajaran
  • pengelolaan kepegawaian
  • pengelolaan kesiswaan
  • pengelolaan sarana dan prasarana
  • pengelolaan keuangan dan
  • pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat.

Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesinya. Supervisi adalah usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara berkelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran dengan tujuan memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas.

Ngalim Purwanto juga mengemukakan bahwa supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah maupun guru, oleh karena itu program supervisi harus dilakukan oleh supervisor yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengadakan hubungan antar individu dan ketrampilan teknis. Supervisor di dalam tugasnya bukan saja mengandalkan pengalaman sebagai modal utama, tetapi harus diikuti atau diimbangi dengan jenjang pendidikan formal yang memadai.

Dari uraian di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwasesuai dengan peran dan tugas-tugas di atas; kepala sekolah sebagai manajer sekolah dituntut untuk dapat menciptakan manajemen sekolah yang efektif.

Sudahkah para kepala sekolah kita berkepribadian dan melaksanakan dengan baik seperti yang diurai di atas?

Peran Guru dan Komite dibahas pada tulisan tersendiri.

5 Tanggapan

  1. Weleh2…
    Tulisannya rapi.
    Tinggal nyetak dan dibagi2 ke Kepala Sekolah Pak…

  2. Terima kasih atas tulisannya. ada yang ingin saya tanyakan bagimana menyikapi terhadap kebijakan kepala sekolah yang menetapkan:
    1. staf TU di jadikan guru mata pelajaran (2 mata pelajaran )
    2. staf TU di jadikan walikelas
    3. wakasek kurikulum merangkap wakasek lain, walikelas
    4. BP, merangkap osis dan wakasek dan walikelas
    5. semua yang diberikan tugas tugas tsb mempunyai tugas rangkap padahal masih banyak guru yang belum mendapat tugas.
    6. kepala sekolah ini hanya memberikan kesejahteraan (beras) untuk guru yang hanya mengajar di sekolahnya saja. dan jika ada guru yang sebelumnya hanya mengajar di sekolahnya kemudian diam-diam guru tsb mengajar disekolah lain maka kesejahteraan dan tugas tambahan guru tsb tidak lagi di berikan.
    Mohon tanggapan dari bapak. Terima kasih sebelumnya

  3. Tanggapan untuk ibu Yani Nuraeni:
    Lho … lho … lho, yang Ibu tulis itu benar terjadi, Bu? Nyleneh ini! Managemen macam mana yang diterapkan itu? Untuk item no. 1&2 pada comment Ibu, saya harus mengatakan bahwa hal itu terlalu jauh menyimpang dari pakem (aturan), item no. 3, 4, 5; di luar kewajaran. Harus ada yang berani mendobrak untuk terjadinya reformasi internal. Untuk item no 6, itu urusan kebijakan dari dalam (kalau swasta: yayasan), saya tidak berani kasih tanggapan.

  4. Tulisannya bermanfat sekal ………..

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: