Pilpres 2009: Antara Pendidikan Politik Bermartabat dan Tidak Sehat – 2

pilpresPemungutan suara yang merupakan salah satu tahapan pesta demokrasi pilpres 2009 baru saja berlalu. Alhamdulillah, secara umum tahapan ini telah terlewati dengan tertib, aman, dan lancar. Memang sesungguhnya kesempurnaan hanya dimiliki Yang Maha Sempurna, maka jika terdapat pernik kecil pada sebuah hajat besar, tentulah hal ini manusiawi. Betapapun juga memang sekecil apapun sebuah penyimpangan yang terjadi perlu diklarifikasi dan  ditindaklanjuti sebagai bahan koreksi demi tegaknya demokrasi. Tetapi hendaknya jangan membesar-besarkan yang sesungguhnya kecil, apalagi sampai berjuang membentuk opini sehingga rakyat awam menjadi terprovokasi yang berujung pada anarki.

Sejauh ini hasil penghitungan beberapa lembaga penyelenggara Quick Count bervariasi, namun sebagian besar menunjukkan bahwa pasangan capres dan cawapres nomor 2 menduduki rangking teratas dengan persentase akumulasi suara lebih dari 60 %. Penulis tidak pasti mengerti apakah hasil penghitungan cepat tersebut berdasar data riil  ataukah yang dimanipulasi. Yang pasti penulis hanya berpegang pada ajaran yang menyarankan agar kita senantiasa lebih mengembangkan budaya berpikir positif. Bukankah kita lebih nyaman berpikir positif dari pada negatif? Bagaimanapun juga hasil quick count bukanlah hasil final meskipun metode quick count telah banyak terbukti benar secara ilmiah. Oleh karena itu mestinya saat ini belum saatnya yang dinyatakan menang versi quick count mengklaim dirinya sebagai pemenang, dan yang dinyatakan kalah tidak keburu sewot dan terkesan memusuhi si pemenang. Mari kita berbesar hati menerima kenyataan apapun mengenai hasil resmi pilpres tahun ini yang akan disampaikan KPU dua minggu lagi.

Setelah nanti KPU secara resmi mengumumkan hasil pemungutan suara, si pemenang mestinya melakukan selamatan, bukan pesta pora yang hanya akan membuat si kalah semakin panas hati. Sebagai cermin dan bahan perenungan berikut penulis cuplikkan sebagian ungkapan pemimpin besar Umar bin Abdul Aziz ketika awal beliau diangkat sebagai khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik; Ketika itu beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri Apa yang Amirul Mukminin tangiskan? Beliau mejawab Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah karena aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw’’ Isterinya juga turut mengalir air mata. Hari kedua dilantik menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Di ujung khutbahnya, beliau berkata “. . . aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa disisi Allah”Beliau kemudian duduk dan menangis “Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku.”

%d blogger menyukai ini: