Kuda dan Kambing Hitam UN 2009

Ujian Nasional (UN) 2009 telah berlalu. Berbagai jurus dan strategi (positif maupun negatif) demi suksesnya pelaksanaan UN pun telah sekolah dan siswa terapkan. Al hasil persentase kelulusan UN secara nasional dinyatakan meningkat meskipun beberapa daerah mengalami penurunan. Kini Pesta-pora perayaan kelulusanpun telah usai. Tetapi, duka lara mendalam hingga kini masih mendera ribuan siswa yang dinyatakan tidak lulus. Memang sesungguhnya segala sesuatu di dunia ini selalu ada dalam dua sisi yang saling bertentangan; baik-buruk, putih-hitam, atas-bawah, berhasil-gagal, dst. Namun disadari atau tidak, segala sesuatu tersebut keberadaannya selalu tidak pernah terlepas dari hukum sebab akibat.

Sudah lazim jika sekolah yang telah memiliki predikat favorit (SSN, RSBI, dan SBI) persentase kelulusan UN-nya mencapai 100 % mengingat input siswanya sudah pada kondisi bagus serta didukung sarana dan prasarana yang memadai, akan tetapi menjadi luar biasa ketika ini terjadi pada sekolah pinggiran yang masih jauh dari dapat dikatakan sebagai sekolah favorit sehingga hal ini menimbulkan spekulasi bahwa sekolah menerapkan black-strategy dalam menyiasati UN. Sebutannya saja spekulasi, maka belum/tidak pasti benar.

Yang pasti, ketika sekolah berhasil dalam UN, yang banyak diperbincangkan masyarakat adalah ‘SAPA GURUNE?’ dan yang ditanyakan pejabat ‘SAPA KEPALA SEKOLAHE?’ (kuda hitam). Tetapi malang bagi sekolah yang masuk dalam kategori gagal UN, karena perbincangan masyarakat dan pertanyaan pejabat sama: ‘SAPA GURUNE?’ / ‘SAPA KEPALA SEKOLAHE?’ (kambing hitam).

Yang paling benar, mari kita perbanyak membaca ISTIGHFAR.

Satu Tanggapan

  1. kalau guru dijadikan kambing hitamnya, bereti kepala sekolah menjadi gajah hitamnya

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: