SOEDIJANTO DALAM KENANGAN

BPKAyahanda tercinta ‘Soedijanto (72)’, setelah selama 11 hari dirawat di ICU Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta, akhirnya pada hari Kamis, 4 Juni 2009 (malam Jum’at) berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un! Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT, diampuni dari segala dosanya, dan menjadi ahli surga.

Di masa hidupnya, almarhum yang pada tahun 80-an menjabat sebagai Kakancam di jajaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, terkenal sebagai pejabat yang disiplin, bersih, dan berwibawa sehingga sampai pada purna tugasnya tak sedikitpun terdengar berita miring mengenai dirinya. Almarhum yang pada masanya juga terkenal sebagai orator kharismatik dengan tampilan sangat sederhana ini sungguh bagi kami para anaknya merupakan orangtua yang penuh tanggung jawab dan sangat peduli mengenai pendidikan anak-anaknya. Pernah suatu waktu beliau berkata, “Bapak tidak dapat mewariskan apa-apa kepada kalian semua anak-anak bapak, tetapi bapak akan mengusahakan segala biaya atas pendidikan kalian hingga kalian lulus melebihi bapak yang hanya lulus sarjana muda.” Dengan susah payah akhirnya beliau berhasil menyekolahkan kelima anaknya hingga lulus sarjana dan kini semuanya telah cekel ing gawe (bekerja).

Salah satu kenangan yang hingga kini masih saya ingat benar adalah ketika suatu waktu saya minta uang untuk membayar biaya heregestrasi pada waktu kuliah. Saat itu saya berkata, “Pak, bulan lalu saya sudah matur bahwa bulan ini saya harus heregestrasi.” Bapak menanggapi dengan wajah memerah, “O ya?” Dengan jawaban itu saya dapat menduga bahwa ternyata bapak saat itu tidak siap dana. Sore harinya saya dipanggil, “Nang, sini! Surat ini kamu antar ke pakdhemu, ya? Sekarang!” “Nggih, Pak.” saya menjawab sambil menyimpan rasa penasaran mengenai isi surat untuk pakdhe tersebut. Di tengah jalan saya tidak bisa menahan rasa penasaran itu, lalu saya curi bacalah surat itu. Isi suratnya sangat singkat, “Mas, Tulung aku disilihi dhuwit Rp 300.000,- nggo mbayar kuliah anakku.” Kontan saat itu wajah saya memerah dan tanpa terasa mata menjadi basah. Saat itu dalam batin aku bersumpah, “Ya Allah, tidak akan saya sia-siakan usaha bapak!”

Selamat jalan, Bapak. Do’a anakmu selalu ada untukmu.

3 Tanggapan

  1. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga arwah almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah ya Pak. Ikut berduka cita Pak Mursyid

  2. Innalillahi wainna ilaihi ro’jiun
    Ikut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya
    semoga almarhum diterima dan diberi tempat yang lapang, diampuni segala dosa.

    Salam kenal mas…

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: