GURU BERPRESTASI???

Sabtu, 2 Mei 2009 kebetulan saya selaku wakil kepala sekolah diminta oleh kepala sekolah untuk menjadi pembina upacara bendera dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional di sekolah karena pada waktu yang sama kepala sekolah harus mengiukuti upacara serupa di tingkat kabupaten. Di tengah acara, tepatnya setelah amanat pembina upacara, tiba-tiba tanpa sepengetahuan saya ada acara tambahan, yaitu pengumuman hasil seleksi guru berprestasi tingkat sekolah yang dibacakan oleh salah satu guru senior.
Dari hasil seleksi tersebut saya menempati rangking 1. Spontan setelah nama saya disebut tepuk tangan riuh rendahpun terdengar. Sungguh sayang  saat itu tak sedikitpun raut wajah saya menunjukkan kegembiraan, karena sebutan guru berprestasi bagi saya terlalu berlebihan. Saya tidak pernah berambisi untuk memperoleh predikat itu. Selama ini saya hanya berpegang teguh pada pendirian saya bahwa hidup ini tidak selayaknya dibiarkan biasa-biasa saja. Sebagai seorang guru hanya satu do’a (“Ya Allah, aku mohon Ridlo-Mu, berilah aku tambahan motivasi dalam mengajar!”)  yang senantiasa saya sebut setiap saya mengawali proses belajar mengajar di kelas.

Terimakasih pada teman-teman guru umumnya dan khususnya pada tim seleksi. Namun saya tetap pada pendirian yang sudah sejak awal saya sampaikan bahkan ketika tim seleksi belum mulai bekerja, yaitu bahwa saya sama sekali tidak tertarik dengan sebutan guru berprestasi. Maka jangan paksa saya untuk mengikuti seleksi di tingkatan selanjutnya karena saya memiliki alasan yang sangat personal yang menyangkut salah satu prinsip hidup saya yang tidak mungkin saya urai di sini.

Sekali lagi, “Terima kasih dan mohon maaf!”

%d blogger menyukai ini: