PENINGKATAN HASIL UJIAN NASIONAL SECARA NASIONAL GAMBARAN MENINGKATNYA KWALITAS ATAUKAH KEBOBROKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA?

PENDAHULUAN
Para siswa kelas XII beserta penyelenggara pendidikan setingkat SMA hari ini (23 April 2009) sedikit lega karena baru saja menyelesaikan puncak kegiatan Ujian Nasional. Sebagian dari mereka tersenyum karena strategi yang direncanakan untuk menyiasati UN dapat berjalan mulus. Sebagian lagi semakin stress karena hanya sebagian kecil dari soal UN yang dapat mereka jawab dengan benar. Sebagian kecil yang lain bersikap biasa-biasa saja karena memang mereka merasa dianugerahi kecerdasan lebih dari pada umumnya sehingga UN memang bagi mereka bukan hal yang terlalu membebani pikiran.

Para siswa kelas IX beserta penyelenggara pendidikan setingkat SMP kini sedang bersiap siaga memperkuat kuda-kuda karena Senin, 27 April 2009 nanti mereka akan bertemu dengan hari yang pada akhir-akhir ini sangat menyita waktu dan pikiran.

Sedemikian mencekam Ujian Nasional sehingga para siswa peserta dan penyelenggaranya masing-masing berlomba strategi demi kesuksesannya. Kesuksesan yang nisbi karena tidak sedikit siswa atau pihak penyelenggara menggunakan strategi yang sangat bertolak belakang dengan esensi dan substansi pendidkan itu sendiri.

KELULUSAN UJIAN NASIONAL MENINGKAT DARI TAHUN KE TAHUN?
Menurut data PUSPENDIK – puspendik.info , secara nasional dari tahun ke tahun terjadi peningkatan perolehan hasil Ujian Nasional yang ditunjukkan dengan meningkatnya persentase kelulusan dan meningkatnya nilai rata-rata UN. Hal inilah yang salah satunya melatarbelakangi pemerintah mengambil kebijakan menaikkan standar kelulusan dari tahun ke tahun. Yang jadi persoalan, “Benar-benar benarkah meningkatnya hasil Ujian Nasional ini merupakan gambaran meningkatnya kwalitas pendidikan di Indonesia?
Apa yang sesungguhnya terjadi di balik semua ini?”

DILEMA KIAT SUKSES UJIAN NASIONAL
Berbagai macam cara dilakukan demi kesuksesan Ujian Nasional. Sebagai bangsa yang religious tentu berdo’a merupakan hal yang sudah sewajarnya ditingkatkan dalam hal ini. Namun kadang yang terjadi peningkatan ketakwaan melalui do’a tersebut kadang juga dibarengi dengan perencanaan/penataan strategi yang bertentangan dengan esensi ajaran agama yang mengajarkan tentang kejujuran. Hal ini tidak akan diulas panjang karena penulis rasa sebagian besar dari kita mengetahui benar apa yang penulis maksud.

HASIL UJI COBA UN VERSUS HASIL UN SESUNGGUHNYA
Salah satu strategi menyiasati Ujian Nasional yang paling popular adalah dengan sering melakukan Uji Coba (TRY OUT) disamping kegiatan lain semacam tambahan jam pelajaran (LES) dan yang lainnya. Dalam menyelenggarakan Uji Coba UN pihak sekolah kadang harus merendahkan diri dengan menggunakan jasa lembaga/penyelenggara pendidikan di luar sekolah yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memperoleh soal yang sedekat mungkin dengan soal UN sesungguhnya. Lebih hebat lagi ada daerah-daerah tertentu di mana pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan setempat memfasilitasi anggaran yang bukan main besarnya untuk membuat kegiatan seputar persiapan UN dengan mengundang para pejabat pusat yang pada akhir kegiatannya juga ninggali beberapa set soal latihan UN untuk diuji-cobakan.

Dari sekian kali Uji Coba dari tahun ke tahun (pada sebagian besar sekolah) hasilnya selalu mirip yaitu hanya sebagian kecil sekali siswa yang berhasil LULUS. Sebagai gambaran: Pada sekolah ‘A’ yang berpredikat SSN pada kegiatan Uji Coba UN sering ada banyak siswa yang tidak LULUS (bahkan kadang sampai hampir 50%). Hal ini sangat berbanding terbalik dengan kenyataan hasil ujian nasional yang sesungguhnya di mana Sekolah ‘A’ tersebut selalu lulus 100%. Sungguh hal ini merupakan fenomena menarik untuk kita cermati bersama bahwa sesungguhnya apa yang terjadi di balik semua ini? Sekolah sekaliber sekolah ‘A’ tersebut tentu kecil kemungkinan pihak panitia penyelenggara di tingkat sekolah untuk berbuat curang. Yang perlu dipertanyakan apakah ada motif lain di tingkat elite sehingga perlu memanipulasi data (alias mengonversi nilai secara besar-besaran) seakan-akan pendidikan di Indonesia melalui hasil UN diketahui selalu terjadi peningkatan. Kalau hal demikian benar adanya sungguh betapa muramya pendidikan di Negara tercinta ini? Hanya karena malu dengan Negara tetangga yang katanya standar kelulusan ujiannya jauh di atas kita, kita rela dipermainkan angka.

(Ditulis oleh M. Mursyid P. W. – April 2009)

4 Tanggapan

  1. Perlu ada redefinisi ulang tentang yang dimaksud dengan “nasional”. Nasionalnya SD adalah kecamatan, nasionalnya SLTP adalah kabupaten, dan seterusnya. Tanpa pernah berani melakukan hal itu, kasihan benar para guru dan siswa di daerah pinggir. Suatu saat, institusi pendidikan perlu melakukan otokritik terhadap perilakunya. Salam.

  2. memang persoalan UN ini menjadi makin rumit dan kompleks ketika UN sendiri diposisikan sebagai tujuan itu sendiri, bukan sebagai alat dan sarana pemetaan mutu pendidikan secara nasional. selain hasil try otu yang sungguhnya hancur, tapi setelah diumumkan banyak siswa yang lulus, selama ini kunci jawaban UN juga tdk pernah dibuka secara transparan setelah UN selesai. sampai kapan pun kalau UN dilaskanakan dengan model begini, jangan harapkan UN bisa menjadi ikon peningkatan mutu pendidikan. wah, pak mursyid ternyata tinggal di pekalaongan, yak? barusan sore tadi saya lewat sana, pak, setelah dari sma 1 slawi.

  3. Saya secara pribadi melihat UN yg dilaksanakan pemerintah hanyalah sebuah rekayasa untuk menaikan popularitas bangsa ini. Saya sangat sangat khawatir sekali apa yang terjadi di lapangan untuk menyukseskan UN, tuntutan mulai dari kepala daerah ke dinas, dinas ke kepala sekolah dan trus guru. apa jadinya pendidikan bangsa ini, pendidikan bukanlah belajar hitungan, tetapi moral, etika jangan dilupakan.

    saya lebih percaya dengan sistem EBTANAS. EBTANAS adalah sebuah penilaian yang dilakukan murni, tidak ada rekayasa, dan akan terlihat kompetensi dari sebuah sekolah hasil dari sebuh proses pembelajaran selama 3 tahun.

  4. Saudara Sugiarno, Sawali dan Haikal terima kasih atas kunjungan panjenengan semua di blog ini.
    Setidaknya kita masih peduli dengan dunia pendidikan.

    Pak Sawali, kapan-kapan kalau lewat Pekalongan lagi, silahkan mampir di gubug derita kami. Nanti tak traktir ‘sego megono’ menu makan khas pekalongan.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: