Hati-hati Menentukan dan Mengemas Media Pembelajaran

bioPernah suatu ketika ada seorang guru yang mengajar di sekolah favorit berkata, “Ketika saya mengajar dengan menggunakan multimedia, kok siswa saya biasa-biasa saja, tidak merasa lebih tertarik, dan nampaknya mereka malah kelihatan bingung.”

Hal di atas benar-benar saya dengar langsung. Dan saat itu saya mengatakan, “Ah, masak begitu?’ Beliau menanggapi, “Iya, Pak. Saya sendiri ya jadi kapok menggunakan media seperti itu lagi.” Lalu akhirnya saya mengatakan, “PAK NJENENGAN SAAT ITU KELIRU DALAM MENENTUKAN ATAU MENGEMAS MEDIA. MEDIA MESTINYA MENARIK DAN MEMPERJELAS MATERI YANG DIAJARKAN DAN TIDAK SEMUA MATERI PAS DIMEDIAKAN DENGAN MULTIMEDIA.”

Pengalaman di atas perlu kita cermati dan jadikan pelajaran berharga. Siapkan dengan baik segala sesuatu yang hendak digunakan dalam mengajar. Hati-hati dalam mengemas dan memilih media. Tidak selamanya media yang dibuat dengan teknologi mahal dan membutuhkan waktu cukup lama dalam membuatnya selalu lebih baik. Khusus mengenai multimedia presentasi pembelajaran dengan komputer dan LCD Projector hendaknya dikemas sedemikian rupa sehingga tampilan media tidak terkesan hanya menjadi pengganti papan tulis. Multimedia presentasi yang hanya terdiri dari tulisan (teks), meskipun tampilnya teks disertai dengan animasi, akan membosankan bagi siswa. Usahakan pada media yang kita buat disisipi dengan gambar, bahkan kalau ada sertai juga dengan film. Tidak perlu malu-malu jika harus menggunakan media karya orang lain (ambil dari internet) yang ada. Syukur kalau dapat memberi sedikit editing sehingga tidak terkesan asal ambil. Seorang pakar multimedia ‘Romi Satrio Wahono’ mengatakan, “Untuk membuat multimedia pembelajaran gunakan teknik ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).”

2 Tanggapan

  1. Memang dunia pendidikan di Indonesia yang sekarang ini menggunakan sisitim KTSP menuntut para guru untuk lebih kreatif lagi untuk mengembangkan media pembelajaran, yang tujuannya lebih memperjelas materi pelajaran yang diberikan. Terkadang kita merasa kalau media yang kita buat sederhana kita merasa malu untuk menampilkan, takut diolok-olok tidak modern, tetapi asalkan media tadi bisa membuat siswa menjadi lebih jelas, kreatif dan inovatif kenapa tidak? Yang penting kita sebagai pendidik berpola pikir untuk belajar dan belajar lagi jangan sampai ketinggalan dengan anak didik kita, khan nggak lucu kalau kita mau mengajari siswa ternyata siswanya lebih tahu lebih dahulu!

  2. Assalamu’alaikum, Pengalaman harus dijadikan media pembelajaran oleh guru. Guru yang berpengalaman mengajar akan dapat melihat dan menentukan media yang tepat untuk mengajar. Maka bagi guru pemula.., banyak-banyaklah belajar dari guru yang sudah berpengalaman..

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: